|
|
By Dian Budi Santoso, on October 26th, 2011
Wacana tentang adopsi IT (Information Technology) di institusi baik itu pemerintah maupun swasta yang bergerak di berbagai sektor semakin mengemuka. Ada yang berhasil baik dalam penerapannya sehingga memaksimalkan performa organisasi, ada juga yang gagal bahkan infrastruktur IT yang telah dibangun tidak terpakai dan difungsikan secara optimal.
Kegagalan penerapan IT terutama terjadi di institusi-institusi pemerintah. Pengadaan infrastruktur IT di lingkup pemerintahan biasanya hanya berdasarkan keinginan kalangan atas (pejabat) untuk memanfaatkan dana pemerintah yang tersedia tanpa memperhatikan kebutuhan, kesiapan dan implementasinya di sektor operasional. Akibatnya banyak infrastruktur IT yang telah dibangun tidak sesuai dengan harapan karena user di level operasional belum siap menggunakan dan sistem yang sudah dibangun kurang fleksible untuk dikembangkan. Ketika sistem itu tidak bisa lagi dikembangkan maka jalan satu-satunya adalah mengganti sistem, menganggarkan dana lagi, tender proyek lagi dan begitu seterusnya hanya membuang-buang sumber daya.
Agar adopsi IT berjalan baik, maka organisasi harus menyiapkan strategi yang matang. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
Beberapa waktu yang lalu saya dapat email dan telepon dari panitia FIKI (Forum Informatika Kesehatan Indonesia) 2011 dimana salah satu materi yang akan dibahas adalah mengenai Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) Generik yang kebetulan juga sedang ramai dibahas oleh rekan-rekan saya di forum MIK UMS.
Seperti diketahui bahwa saat ini kementerian kesehatan RI sedang mempersiapkan pengimplementasian SIKDA generik untuk Puskesmas. Pada tahap awal akan diujicobakan pada beberapa Puskesmas di beberapa daerah. Setalah masa uji coba rencananya SIKDA ini akan diimplementasikan secara nasional. SIKDA merupakan seperangkat sistem informasi manajemen fasilitas pelayanan kesehatan yang bersifat open source. Pada tahap awal dibangun untuk Puskesmas dan tahap selanjutnya akan dibangun juga SIKDA untuk kelas rumah sakit.
» Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
3 faktor utama yang menjadi kunci kesusksesan penerapan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah:
Technical Determinants (faktor teknis), Systemic/Environmental Determinants (faktor lingkungan), dan Behavioral Determinants (faktor tingkah laku).
Apabila ketiga faktor tersebut sudah terpenuhi diharapkan dapat meningkatkan performa dari pelayanan kesehatan itu sendiri yang berimplikasi terhadap meningkatnya status kesehatan masyarakat. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
Di Indonesia, fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit di kota-kota besar umumnya sudah mempunyai sistem informasi manajemen rumah sakit atau SIMRS namun penerapannya hanya sebatas pada pencatatan data sosial pasien dan data administratif rumah sakit. Data klinis seperti diagnosis, obat dan tindakan sudah tersimpan secara elektronik namun sebagian besar catatan asuhan perawatan pasien, laporan operasi, hasil lab/radiologi, dan lain-lain masih disimpan dalam wujud fisik kertas. Bahkan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah masih sepenuhnya menggunakan sistem manual. Yang saya tahu baru di GMC (Gadjah Mada Medical Center) yang sudah menerapkan RME secara penuh, namun level GMC hanya sebatas klinik rawat jalan.
RKE juga belum ada yang menerapkan sepenuhnya, di Kota Yogyakarta misalnya aplikasi SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) sudah terintegrasi antar masing-masing Puskesmas di wilayah Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta namun hanya sebatas data stok obatnya. Sedangkan data pasien justru belum terintegrasi.
Sedangkan untuk RKP juga belum ada yang menerapkan sepenuhnya, namun di Indonesia sudah ada fasilitas pelayanan kesehatan yang mencoba menerapkan yaitu Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Kartu pasien di RS Fatmawati dibuat dengan mengadopsi konsep smartcard dimana kartu tersebut tidak hanya sebagai tanda pengenal pasien tetapi juga dapat menyimpan riwayat penyakit, tindakan dan obat-obatan yang pernah diberikan pada pasien. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on July 20th, 2011
Sebut saja dia “Toyib”, tiap hari cuma 3 K (kampus, kamar mandi, kamar kost), IPK mendekati empat, tapi jarang bergaul apalagi berorganisasi, alasannya: “sibuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah”.
Sebut saja dia “Paijo”, jarang masuk kuliah IPK-nya cuma dua koma sedikit tapi aktif di BEM Kampus bahkan terpilih jadi Presidennya, ia berkilah: “nilai itu tidak penting, yang penting adalah berorganisasi dan bagaimana kita mengembangkan diri di kampus”.
Sebut saja dia “Melati”, cantik, jarang masuk kuliah, hobby dugem, sering nyontek kalo ujian, tapi IPK-nya bisa dikatakan terlalu bagus untuk orang seukuran dia. Prinsip hidupnya: “orang pinter kalah sama orang rajin, orang rajin kalah sama orang beruntung, posisi dan relasi menentukan prestasi”.
Sebut saja dia “Mawar”, anak orang kaya dan selalu memamerkan kekayaan ayahnya. Kuliah tidak pernah serius, sering bolos, kerjanya cuma shopping dan jalan-jalan di mall, dia menganggap semua bisa dibeli dengan uang. Bahkan masuk ke kampus ternama yang ia tempati saat ini pun pake calo dengan banderol 200 juta IDR. Katanya: “kalau ada yang mudah, kenapa harus milih yang sulit?”.
Sebut saja meraka “Surti” dan “Tejo”, berasal dari desa, hidupnya sederhana, IPK juga biasa-biasa saja. Rajin kuliah, rajin mengerjakan tugas, punya genk yang semua anggotanya anak-anak desa yang dianggap kurang gaul di kampusnya, cenderung ikut-ikutan dan menganggap “hidup itu seperti air mengalir, jadi dijalani saja”.
Ya mungkin karakter-karakter yang saya sebutkan di atas pernah Anda jumpai di kehidupan perkuliahan di kampus Anda, atau mungkin Anda merasa mirip dengan salah satu karakter di atas? » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on May 16th, 2011
Seminar tentang uji kompetensi perekam medis di Indonesia dan presentasi hasil-hasil penelitian di bidang rekam medis.
Uji kompetensi merupakan syarat untuk bekerja di institusi pelayanan kesehatan. Menurut Permenkes nomor 161 tahun 2010, uji kompetensi merupakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi.
Disamping itu panitia juga mengundang dosen, mahasiswa, serta praktisi rekam medik untuk mempresentasikan hasil penelitian atau karya ilmiah dalam bidang rekam medis. Diharapkan perkembangan pemikiran dalam dunia rekam medis dapat dikomunikasikan. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on April 16th, 2011
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan sharing dengan mahasiswa dan mahasiswi S2 Pendidikan Kedokteran FK UGM. Sebenarnya yang didaulat untuk mengajar itu Bu Rawi Miharti, tapi kemudian saya diajak karena materi kuliahnya adalah pembuatan CD pembelajaran interaktif. Jadi Bu Rawi menyampaikan teori dan pengalaman beliau terkait pembuatan CD interaktif di Program Studi D3 Rekam Medis, yang juga diangkat sebagai tesis beliau, sementara saya menyampaikan materi mengenai praktik pembuatannya.
Pada awalnya saya bingung juga mau menyampaikan materi apa, karena kalau saya memberikan Praktik Adobe Flash untuk pembuatan CD interaktif nanti kesannya malah seperti kuliah ilmu computer, hehe.. Adobe Flash basicnya memakai action script atau dengan kata lain harus belajar pemrograman. Jelas itu tidak mungkin, karena semua mahasiswa/i S2 Pendidikan Dokter FK UGM adalah dosen di fakultas kedokteran dari berbagai universitas di Indonesia, jadi memang bukan porsinya kalau harus belajar pemrograman. » Baca Selengkapnya..
|
Tentang saya Pria Kelahiran Purwokerto, 20 Nopember 1988. Terlibat dalam beberapa proyek terkait Dunia Pendidikan dan Informatika Kesehatan, menulis e-book, menjadi konsultan IT dan Manajemen Informasi Kesehatan, keluyuran ilmiah serta mengisi tutorial di berbagai forum dan kegiatan. Menyukai dunia edukasi terkait teknologi informasi dan rekam kesehatan. Selengkapnya..
Curriculum Vittae
Produk
Buku Tamu
|
Komentar Terbaru