|
|
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
Di Indonesia, fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit di kota-kota besar umumnya sudah mempunyai sistem informasi manajemen rumah sakit atau SIMRS namun penerapannya hanya sebatas pada pencatatan data sosial pasien dan data administratif rumah sakit. Data klinis seperti diagnosis, obat dan tindakan sudah tersimpan secara elektronik namun sebagian besar catatan asuhan perawatan pasien, laporan operasi, hasil lab/radiologi, dan lain-lain masih disimpan dalam wujud fisik kertas. Bahkan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah masih sepenuhnya menggunakan sistem manual. Yang saya tahu baru di GMC (Gadjah Mada Medical Center) yang sudah menerapkan RME secara penuh, namun level GMC hanya sebatas klinik rawat jalan.
RKE juga belum ada yang menerapkan sepenuhnya, di Kota Yogyakarta misalnya aplikasi SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) sudah terintegrasi antar masing-masing Puskesmas di wilayah Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta namun hanya sebatas data stok obatnya. Sedangkan data pasien justru belum terintegrasi.
Sedangkan untuk RKP juga belum ada yang menerapkan sepenuhnya, namun di Indonesia sudah ada fasilitas pelayanan kesehatan yang mencoba menerapkan yaitu Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Kartu pasien di RS Fatmawati dibuat dengan mengadopsi konsep smartcard dimana kartu tersebut tidak hanya sebagai tanda pengenal pasien tetapi juga dapat menyimpan riwayat penyakit, tindakan dan obat-obatan yang pernah diberikan pada pasien. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on July 20th, 2011
Sebut saja dia “Toyib”, tiap hari cuma 3 K (kampus, kamar mandi, kamar kost), IPK mendekati empat, tapi jarang bergaul apalagi berorganisasi, alasannya: “sibuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah”.
Sebut saja dia “Paijo”, jarang masuk kuliah IPK-nya cuma dua koma sedikit tapi aktif di BEM Kampus bahkan terpilih jadi Presidennya, ia berkilah: “nilai itu tidak penting, yang penting adalah berorganisasi dan bagaimana kita mengembangkan diri di kampus”.
Sebut saja dia “Melati”, cantik, jarang masuk kuliah, hobby dugem, sering nyontek kalo ujian, tapi IPK-nya bisa dikatakan terlalu bagus untuk orang seukuran dia. Prinsip hidupnya: “orang pinter kalah sama orang rajin, orang rajin kalah sama orang beruntung, posisi dan relasi menentukan prestasi”.
Sebut saja dia “Mawar”, anak orang kaya dan selalu memamerkan kekayaan ayahnya. Kuliah tidak pernah serius, sering bolos, kerjanya cuma shopping dan jalan-jalan di mall, dia menganggap semua bisa dibeli dengan uang. Bahkan masuk ke kampus ternama yang ia tempati saat ini pun pake calo dengan banderol 200 juta IDR. Katanya: “kalau ada yang mudah, kenapa harus milih yang sulit?”.
Sebut saja meraka “Surti” dan “Tejo”, berasal dari desa, hidupnya sederhana, IPK juga biasa-biasa saja. Rajin kuliah, rajin mengerjakan tugas, punya genk yang semua anggotanya anak-anak desa yang dianggap kurang gaul di kampusnya, cenderung ikut-ikutan dan menganggap “hidup itu seperti air mengalir, jadi dijalani saja”.
Ya mungkin karakter-karakter yang saya sebutkan di atas pernah Anda jumpai di kehidupan perkuliahan di kampus Anda, atau mungkin Anda merasa mirip dengan salah satu karakter di atas? » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on May 16th, 2011
Seminar tentang uji kompetensi perekam medis di Indonesia dan presentasi hasil-hasil penelitian di bidang rekam medis.
Uji kompetensi merupakan syarat untuk bekerja di institusi pelayanan kesehatan. Menurut Permenkes nomor 161 tahun 2010, uji kompetensi merupakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi.
Disamping itu panitia juga mengundang dosen, mahasiswa, serta praktisi rekam medik untuk mempresentasikan hasil penelitian atau karya ilmiah dalam bidang rekam medis. Diharapkan perkembangan pemikiran dalam dunia rekam medis dapat dikomunikasikan. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on April 16th, 2011
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan sharing dengan mahasiswa dan mahasiswi S2 Pendidikan Kedokteran FK UGM. Sebenarnya yang didaulat untuk mengajar itu Bu Rawi Miharti, tapi kemudian saya diajak karena materi kuliahnya adalah pembuatan CD pembelajaran interaktif. Jadi Bu Rawi menyampaikan teori dan pengalaman beliau terkait pembuatan CD interaktif di Program Studi D3 Rekam Medis, yang juga diangkat sebagai tesis beliau, sementara saya menyampaikan materi mengenai praktik pembuatannya.
Pada awalnya saya bingung juga mau menyampaikan materi apa, karena kalau saya memberikan Praktik Adobe Flash untuk pembuatan CD interaktif nanti kesannya malah seperti kuliah ilmu computer, hehe.. Adobe Flash basicnya memakai action script atau dengan kata lain harus belajar pemrograman. Jelas itu tidak mungkin, karena semua mahasiswa/i S2 Pendidikan Dokter FK UGM adalah dosen di fakultas kedokteran dari berbagai universitas di Indonesia, jadi memang bukan porsinya kalau harus belajar pemrograman. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on April 12th, 2011
Kemajuan teknologi saat ini sudah memungkinkan tersampaikannya bahan ajar tanpa perlu adanya tatap muka antara guru dan siswa. Konsep Computer Assisted Learning dimana user dalam hal ini siswa bisa mempelajari materi yang disampaikan guru melalui media komputer telah semakin banyak dipakai. Salah satu yang bisa dipakai adalah sistem multimedia pembelajaran, misalnya dalam bentuk CD interaktif dimana siswa akan dibimbing dan diarahkan untuk menguasai materi yang ada dalam CD. Dengan adanya interaktifitas dan materi berbentuk multimedia yang di package dalam CD akan membuat siswa lebih antusias dalam belajar, dibandingkan dengan jika siswa hanya membaca e-book atau file presentasi yang monoton.
Dalam perancangan dan pembuatan aplikasi multimedia pembelajaran ada beberapa tahap yang harus dilalui » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on March 12th, 2011
Beberapa tahun terakhir saya mendalami SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit). Banyak rumah sakit yang telah saya kunjungi untuk sekedar berdiskusi, presentasi, hingga implementasi. Banyak produk SIMRS yang juga telah saya analisa. Pada dasarnya business process rumah sakit itu hampir sama antara satu rumah sakit dengan rumah sakit yang lainnya, yang membedakan adalah type rumah sakitnya. Semakin tinggi kelasnya maka semakin kompleks proses bisnisnya. Semakin khusus rumah sakitnya maka proses bisnisnya juga semakin unik. Karena itu ada tahap assessment untuk kemudian dilakukan kustomisasi produk (SIMRS) sebelum implementasi.
Sebuah SIMRS dikatakan ideal atau lengkap jika telah memiliki semua modul standar yaitu » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on December 29th, 2010
Beberapa waktu yang lalu saya dengan Mas Putut Kuncara (ahli IT-nya Pemkot Jogja) membuat sebuah aplikasi berbasis web untuk PMI Kota Yogyakarta.
Aplikasi dipublish ke Internet dengan harapan laporan bisa dilihat setiap saat dan petugas dilapangan yang menangani pasien di lapangan bisa langsung mennginput data secara realtime menggunakan piranti mobile.
Tingkat kesulitan pada pembangunan aplikasi ini terletak pada pengimplementasian Google Map API. Jadi di aplikasi tersebut akan muncul peta untuk mencari lokasi korban berdasarkan keterangan dari pelapor yang disampaikan pada operator YES 118. Setelah lokasi ditemukan kemudian operator bisa menyimpan koordinat lokasi (derajat lintang dan bujur). Koordinat ini disimpan agar nantinya bisa ditampilkan kembali titik-titik lokasi kejadian kecelakaan maupun gawat darurat yang ditangani PMI Jogja khususnya Unit YES 118.
» Baca Selengkapnya..
|
Tentang saya Pria Kelahiran Purwokerto, 20 Nopember 1988. Terlibat dalam beberapa proyek terkait Dunia Pendidikan dan Informatika Kesehatan, menulis e-book, menjadi konsultan IT dan Manajemen Informasi Kesehatan, keluyuran ilmiah serta mengisi tutorial di berbagai forum dan kegiatan. Menyukai dunia edukasi terkait teknologi informasi dan rekam kesehatan. Selengkapnya..
Curriculum Vittae
Produk
Buku Tamu
|
Komentar Terbaru