Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

Hikayat Sistem Informasi Manajemen Absensi

Alkisah di Desa Babadan hiduplah seseorang yang dijuluki sebagai Phunsukh Wangdu dari Bantul, nama aslinya Rizka Himawan namun lebih dikenal dengan nama Kadon Brokoli. Sesuai julukannya pria ini adalah pria multitalenta, ahli dalam segala bidang (kecuali cinta), menghabiskan sedikit waktunya untuk riset, dan sisanya untuk hobinya yang lain macam bermain musik dan hunting foto gadis cantik. Sama dengan tokoh aslinya, sang Phunsukh Wangdu dari Bantul juga tidak memiliki ijazah dari kampusnya (UGM) meskipun telah menamatkan pendidikannya di kampus biru itu tepatnya dari Program Studi Komputer dan Sistem Informasi. Ia percaya bahwa kuliah bukan mencari ijazah, melainkan mencari ilmu. Saat ini dia mengabdikan dirinya untuk wong cilik, menjadi panembahan IT di kampungnya.

Suatu hari datanglah punggawa dari Fakultas Kedokteran UGM membawa sebuah device yang kita kenal sebagai mesin absensi berbasis sidik jari (finger print), yang katanya sudah rusak, dan bisa dijadikan bahan riset untuk Sang Phunsukh Wangdu. Tentu saja naluri risetnya menggelora, diopreknya device itu sampai jeroannya. Maklum, di rumahnya sang Phunsukh Wangdu memiliki klinik bedah husus alat-alat elektronik, disamping studio musik khasidah dan dangdutan yang biasa digunakan bersama warga di kampungnya.

Ternyata mesin absensi sidik jari ini dibekali dengan software berbasis desktop dan database yang berbasis teks. Tampilan aplikasinya cukup jadul (kalau kata anak muda) dan tentunya tidak bisa dikustomisasi karena sifatnya yang closed source. Pungsukh Wangdu berpikir bagaimana caranya supanya device ini dapat berkomunikasi langsung dengan database management system macam MySQL sehingga membuatnya akan lebih powerful dari saat ini.
» Baca Selengkapnya..

FAQ Rekam Medis

Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008

Pasal 1 menyebutkan:

“Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien”(ayat 1).

Pasal 2 menyebutkan:

“Rekam medis harus dibuat secara tertulis, dan jelas atau secara ELEKTRONIK”(ayat 1)

“Penyelenggaraan rekam medis dengan menggunakan teknologi informasi elektronik diatur lebih lanjut dengan peratutan sendiri”(ayat 2).

Pasal 12 menyebutkan:

“BERKAS rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan”(ayat 1) dan “ISI rekam medis merupakan milik pasien” (ayat 2).
» Baca Selengkapnya..

Implementasi Sistem Informasi Manajemen Posyandu di Kabupaten Blora

Tanggal 24-26 Juni 2013 bertempat di Gedgung KORPRI Kab. Blora diadakan pelatihan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Posyandu untuk perwakilan bidan dan kader posyandu strata mandiri dari masing-asing kecamatan di Kab. Blora. Total ada 16 perwakilan posyandu terpilih yang mendapatkan hibah laptop dan printer dari Pemda.

Seperti biasa saya dan tim berperan sebagai konsultan IT yang melatih dan mendampingi para kader dan bidan dalam penggunaan SIM Posyandu. Para peserta pelatihan terlihat cukup antusias, apalagi mendapatkan uang saku, laptop dan printer gratis, heheh.. saya juga mau kalau itu.

Diharapkan masing-masing posyandu yang terpilih dapat dijadikan posyandu rintisan yang berhasil mengimplementasikan teknologi informasi dalam menunjang kegiatan pelayanan. Rencananya implementasi SIM Posyandu di Kab. Blora akan dilakukan secara bertahap setiap tahunnya, selain itu SIM Posyandu juga ke depannya akan diintegrasikan dengan SIM Puskesmas dan SIM PKK yang selama ini masih berdiri sendiri padahal ada keterkaitan data dan informasi diantara ketiganya.
» Baca Selengkapnya..

Implementasi SIMPUS?

Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh rombongan Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk mendengarkan pengajian dari saya, heheheh.. ngawur. Tadi pagi rombongan sudah terlebih dahulu melakukan kunjungan ke Puskesmas Kotagede 1, sudah menyaksikan bagaimana Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) diterapkan disana. Memang butuh waktu yang panjang sampai akhirnya SIMPUS bisa diimplementasikan dan digunakan secara maksimal oleh seluruh puskesmas di wilayah Pemkot Yogyakarta. Proses implementasi SIMPUS di Yogyakarta sendiri sudah berjalan sejak tahun 2005.

Siang harinya adalah bagian saya menyampaikan materi sekaligus mengadakan sesi curhat dan konsultasi untuk Bapak dan Ibu dari Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara. Di sana SIMPUS mulai diimplementasikan sejak tahun 2011, dan baru berjalan satu bulan SIMPUS-nya sudah tidak bisa dipakai, entah apa yang terjadi, yang jelas akses internet masih bisa dipakai tetapi SIMPUS-nya sudah tidak bisa dipakai. Padahal pengadaan akses internet di puskesmas kan salah satu tujuannya supaya bisa menggunakan aplikasi SIMPUS yang dipasang di server dinas kesehatan setempat. Kenapa tidak ada tindak lanjut? Apakah vendor tidak mau bertanggungjawab? Atau memang kontraknya cuma beli putus? Tidak ada proses maintenance? Ah semunya masih misteri, soalnya beliau-beliau juga tidak tahu menahu :D
» Baca Selengkapnya..

Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Hari Sabtu, tanggal 23 Maret 2013 dilaksanakan workshop kurikulum baru berbasis kompetensi institusi pendidikan tenaga perekam medis dan informasi kesehatan di Dinas Kesehatan DIY. Peserta yang diundang dalam workshop tersebut adalah:
1. Dosen program studi rekam medis (Sekolah Vokasi UGM, Poltekes BSI, dan STIKES Permata Indonesia)
2. Pengurus Institusi pendidikan rekam medis
3. Stake holder/ pengguna lulusan D3 RMIK
4. Pengurus organisasi profesi rekam medis (PORMIKI)

Sambutan dan materi dari Dinas Kesehatan DIY disampaikan oleh drg. Yuli Kusumawati,M.Kes terkait dibentuknya badan kemitraan antara dinas kesehatan, istitusi pendidikan, dan organisasi profesi rekam medis untuk mengawal jalannya kurikulum baru berbasis kompetensi. Diharapkan adanya peran aktif dari masing-masing elemen untuk menjamin bahwa lulusan D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan merupakan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sesuai standar yang sudah ditentukan.
» Baca Selengkapnya..

Dualisme VS Nasionalisme

Ah memang tidak asik kalau membicarakan dualisme di dunia sepakbola Indonesia saat ini. Kalau debat menetukan siapa yang benar dan siapa yang salah tidak akan ada habisnya macam debat kusir, ujung-ujungnya malah tarkam lagi nanti. Supporter setia macam saya juga sudah jengah, bahkan untuk beberapa waktu saya tidak mau lagi mengikuti berita sepak bola dalam negeri sampai semua pihak bersatu kembali (nyatanya sampai sekarang malah tambah amburadul). Cuma berhubung ini ada piala AFF, piala dunia-nya negara-negara ASEAN ya mau tidak mau kita musti dukung timnas, siapapun yang berangkat.

Seperti yang dilontarkan Andik Vermansyah dalam wawancara selepas pertandingan tadi malam “masyarakat boleh membenci PSSI dan KPSI , tapi jangan membenci Timnas, karena kami mengharapkan dukungan dari masyarakat Indonesia”. Jleeeb… sebuah pernyataan yang sangat menohok hati saya, sebuah pernyataan yang saya yakin murni nasionalisme bukan intervensi dari pihak manapun. Baiklah.. bermainlah dengan maksimal wahai para pemain timnas, doa kami bersamamu, mari ganyang Malaysia di pertandingan berikutnya!
» Baca Selengkapnya..

Peran Perekam Medis di Puskesmas dalam Penerapan SIMPUS

Tanggal 13 Juni 2012 saya berkesempatan mengisi sebuah acara bertajuk Refrehing Petugas Rekam Medis Puskesmas se-Kabupaten Klaten. Ini pertama kalinya saya diundang oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten untuk menyampaikan materi terkait rekam medis, dan memang kebetulan pihak Dinkes akan melakukan restrukturisasi unit kerja rekam medis di puskesmas termasuk penggunaan SIMPUS (Sistem Informasi Manajamen Puskesmas) yang terintegrasi, terarah dan terkoordinir pengimplementasiannya.

Sebelumnya sudah ada beberapa puskesmas di Kabupaten Klaten yang menerapkan SIMPUS namun penggunaannya belum maksimal karena terkendala oleh beberapa hal terutama masalah kurangnya support dari vendor pasca pembelian software SIMPUS. Kurangnya SDM yang paham akan teknis computer hardware dan jaringan di puskesmas maupun di lingkungan dinas kesehatan juga menjadi kendala tersendiri.

Dalam acara tersebut saya membawakan materi berjudul “Peran Perekam Medis di Puskesmas dalam Penerapan SIMPUS”. Karena tajuk acaranya adalah refreshing ya jadinya lebih banyak guyon­-nya dibandingkan materinya. Kebanyakan petugas rekam medis puskesmas di lingkungan kerja Dinkes Klaten bukan merupakan lulusan pendidikan rekam medis. Kebanyakan juga mohon maaf sudah “senior” dan kebanyakan dari mereka curhat bahwa perekam medis di puskesmas itu adalah orang yang peranannya paling tidak penting di puskesmas. Mereka merasa dipinggirkan (sebenernya bukan dipinggirkan, tapi memang minggir sendiri karena sudah kurang PD duluan). Hehehe becanda..
» Baca Selengkapnya..