Chat Me

Facebook Page

Statistik

free counters
Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

Mahasiswa dan Wirausaha

Tanggal 14 Maret 2012 kemarin saya diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dalam seminar dengan tema “Technopreneurship” di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Karena yang menjadi panitia adalah mahasiswa dari Jurusan Teknik Informatika maka perkiraan saya yang menjadi peserta juga orang-orang yang berkecimpung di dunia IT. Ternyata perkiraan saya agak meleset, sebagian besar peserta justru mahasiswa non-IT. Walhasil saya pun berbicara sedikit di luar konteks dari apa yang saya tampilkan di slide. Lha wong yang saya tulis di slide sebagian besar terkait teknis IT je (pake logat jogja).

Sebenarnya materi yang saya bawakan sesuai temanya adalah “Membangun Start-Up Modal Nekat”, terkait kewirausahaan dalam bidang IT kan semua pasti tertuju pada kata “Start-Up”, sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang IT entah itu berbentuk software house, game studio, social networking, e-commerce, dan lain-lain. Banyak contoh mahasiswa IT yang sukses dengan start-up-nya, bahkan sampai keluar dari kuliah layaknya Mark Zuckerberg (CEO Facebook). Tapi contohlah yang baik-baik saja, jangan sampai kuliah keteteran apalagi sampai ditinggal, diusahakan semua berjalan seimbang, bisnis jalan, kuliah juga jalan. Jangan seperti saya juga, kuliah jalan, eh usahanya gak jalan-jalan, hehe.. wirausaha itu bukan sekedar konsep melainkan aksi, mental merupakan modal utama. Kalau udah punya mental usaha, udah deh.. pasti usahanya jalan, tinggal menambah modal dan memperkaya pengetahuan di bidang bisnis yang Anda jalani. Jangan takut jatuh, jatuh itu wajar dalam sebuah pembelajaran, yang tidak wajar adalah Anda terlalu lama terbaring dan tidak segera bangun, kalau dibelakangnya ada truk tronton kayak di film transformer bisa ketlindes ente (pake logat jakarte).
» Baca Selengkapnya..

Aku memimpikan menjadi yang terbaik di dunia, dan aku membuktikannya

Saya termasuk salah satu dari korban industri sepak bola yang sudah merajalela. Dulu waktu kecil awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan sepak bola, tapi karena tren waktu itu Liga Italia sedang “panas” di Indonesia jadi saya juga ikut-ikutan nonton yang “panas” seperti teman-teman yang lain. Akhirnya saya juga ikut kecanduan, dan Inter Milan adalah tim saya gilai hingga saat ini, mau waktu pertandingannya tengah malam atau dini hari pun saya selalu mencoba menyempatkan untuk nonton. Ya itulah awalnya saya jadi pecandu sepak bola. Meski tidak memiliki bakat mengolah si kulit bundar, setidaknya saya punya bakat buat main game sepak bola. Buktinya saya pernah dijuluki (lebih tepatnya menjuluki diri saya sendiri) raja PES (Pro Evolution Soccer) Blimbingsari, ya blimbingsari adalah dukuh tempat saya tinggal dari saat kuliah hingga saat ini.

Oscar Leonard Carl Pistorius (25) pelari dunia 400 meter penyandang cacat asal Afrika Selatan, terpilih untuk menerima penghargaan tertinggi di dunia sebagai olahragawan penyandang cacat dunia terbaik 2011. Pistorius yang menggunakan kaki palsu dari serat karbon terpilih karena mampu meraih medali perak saat membela negaranya saat turun pada nomor 4 x 400 meter, di Kejuaraan Dunia Atletik Daegu 2011 lalu. Sementara kejuaraan itu bukan merupakan kejuaraan bagi penyandang cacat. Wouw.. seorang yang cacat dengan kaki palsu mampu bersaing dengan orang normal pada kejuaraan dunia atletik, bayangkan teman-teman :D

Yu Zhenhuan adalah cowok China yang memiliki bulu di sekujur tubuhnya. Ia dijuluki sebagai manusia yang paling banyak memiliki bulu di dunia. Secara logika, dengan keterbatasannya itu, mungkin ia akan sulit mendapatkan seorang istri. Faktanya, ia memiliki istri yang cantik.
» Baca Selengkapnya..

Guru-Guru Berkarakter

Memang tiap guru atau pendidik punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik, ada yang menjadi sosok teman dan sahabat yang sangat dekat dengan siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok galak hingga ditakuti siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok yang sangat lucu hingga para siswa pasti antusias saat pelajarannya, yang jelas mereka memiliki metode sendiri sesuai karakter mereka. Yang penting outputnya adalah materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik oleh anak didiknya.

Sangat disayangkan jika ada guru yang memang pandai secara akademik, tetapi mereka tidak pandai dalam menyampaikan pengetahuannya kepada para siswa. Akibatnya anak didik tidak antusias saat kelas berlangsung, tidak paham materi yang disampaikan dan banyak yang nyontek saat ujian.

Saya ingat saat kuliah dulu juga ada dosen yang membolehkan mahasiswanya tidak ikut kuliah, tetapi akan memberikan nilai A jika memang mampu mengerjakan soal ujiannya. Tapi dosen ini cukup tegas, jika ada yang ketahuan mencontek saat ujian maka dijamin nilainya pasti E. Ya walaupun metodenya agak “kontroversial” tapi metode inilah yang saya acungi jempol, karena saya bisa bebas membolos tapi tetap dapat nilai A (jangan ditiru, hanya orang-orang pilihan yang dapat melakukannya). Daripada ada dosen yang mewajibkan semua mahasiswanya hadir, tetapi saat menyampaikan materi seperti “ngomong sendiri” di depan kelas, selesai kuliah membagikan slide presentasi dimana semua materi ada disitu, dan saat ujian juga pasti yang keluar dari silde itu. Lalu buat apa para mahasiswa masuk kuliah kalau materinya bisa dipelajari sendiri di slide. Buang-buang waktu kan, kalau ada matakuliah yang dosennya seperti itu saya pasti juga sering membolos :p
» Baca Selengkapnya..

Mahasiswa Ideal ?

Sebut saja dia “Toyib”, tiap hari cuma 3 K (kampus, kamar mandi, kamar kost), IPK mendekati empat, tapi jarang bergaul apalagi berorganisasi, alasannya: “sibuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah”.

Sebut saja dia “Paijo”, jarang masuk kuliah IPK-nya cuma dua koma sedikit tapi aktif di BEM Kampus bahkan terpilih jadi Presidennya, ia berkilah: “nilai itu tidak penting, yang penting adalah berorganisasi dan bagaimana kita mengembangkan diri di kampus”.

Sebut saja dia “Melati”, cantik, jarang masuk kuliah, hobby dugem, sering nyontek kalo ujian, tapi IPK-nya bisa dikatakan terlalu bagus untuk orang seukuran dia. Prinsip hidupnya: “orang pinter kalah sama orang rajin, orang rajin kalah sama orang beruntung, posisi dan relasi menentukan prestasi”.

Sebut saja dia “Mawar”, anak orang kaya dan selalu memamerkan kekayaan ayahnya. Kuliah tidak pernah serius, sering bolos, kerjanya cuma shopping dan jalan-jalan di mall, dia menganggap semua bisa dibeli dengan uang. Bahkan masuk ke kampus ternama yang ia tempati saat ini pun pake calo dengan banderol 200 juta IDR. Katanya: “kalau ada yang mudah, kenapa harus milih yang sulit?”.

Sebut saja meraka “Surti” dan “Tejo”, berasal dari desa, hidupnya sederhana, IPK juga biasa-biasa saja. Rajin kuliah, rajin mengerjakan tugas, punya genk yang semua anggotanya anak-anak desa yang dianggap kurang gaul di kampusnya, cenderung ikut-ikutan dan menganggap “hidup itu seperti air mengalir, jadi dijalani saja”.

Ya mungkin karakter-karakter yang saya sebutkan di atas pernah Anda jumpai di kehidupan perkuliahan di kampus Anda, atau mungkin Anda merasa mirip dengan salah satu karakter di atas? :D
» Baca Selengkapnya..