Pentingnya Penguasaan Teknologi Informasi bagi Perekam Medis

Pada tanggal 27 Agustus 2015 yang lalu saya berkesempatan menyampaikan materi terkait pentingnya seorang perekam medis menguasai atau memiliki wawasan tentang teknologi informasi. Materi ini saya sampaikan pada kuliah umum untuk Program Studi D3 Rekam medis dan Informasi Kesehatan Poltekes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon.

Kenapa perekam medis harus menguasai teknologi informasi? Ada beberapa hal yang perlu kita resapi bersama:

Semua fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang bekerjasama dengan BPJS wajib menggunakan p-Care, yaitu sebuah software yang digunakan untuk mencatat data pelayanan pasien BPJS di FKTP. Tentu saja untuk mengoperasikannya dibutuhkan wawasan di bidang teknologi informasi. Termasuk isu terkini yaitu bagaimana dapat mengintegrasikan p-Care dengan sistem informasi yang sudah ada sebelumnya di FKTP seperti sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS). Karena dengan adanya p-Care telah memunculkan masalah baru yaitu petugas harus melakukan double entry untuk data pasien BPJS. p-Care berpotensi menjadi sebuah sistem rekam kesehatan elektronik, meskipun ada banyak keterbatasan yang harus disempurnakan.

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL)? Tentu tidak jauh berbeda. Semua rumah sakit yang berkejasama dengan BPJS juga wajib menggunakan INASIS (INA CBGs-SEP Integrated System) yaitu sebuah software yang memfasilitasi penerbitan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) BPJS serta proses kliam biaya pasien BPJS.

Hal lain yang mendasari kenapa perekam medis harus menguasai teknologi informasi adalah sudah saatnya kita beralih ke rekam medis elektronik. Apakah ini sudah saatnya? YA INI SUDAH SAATNYA! Sudah saatnya kita beralih ke rekam medis elektronik dan meninggalkan rekam medis berbasis kertas. Tentu disesuaikan dengan aspek hukum yang diterapkan di negara kita. Karena payung hukum yang secara spesifik mengatur tentang rekam medis elektronik belum ada di Indonesia, maka kita bisa memulai dengan mengurangi penggunaan kertas sedikit demi sedikit dan menggantikannya dengan penyimpanan data berbasis elektronik.

Bagaimana dengan negara lain di luar sana? Apakah sudah menerapkan rekam medis elektronik? Saya bahkan menemukan sebuah publikasi ilmiah tentang rekam medis elektronik yang diterbitkan tahun 1960. Silahkan dicek disini, judulnya “The use of electronic computers in medical data processing: aids in diagnosis, current information retrieval, and medical record keeping”, diterbitkan 55 tahun yang lalu. Terbayang kan 55 tahun yang lalu? maka dari itu kita harus mulai dari sekarang, sebelum semakin terlambat nantinya.

Kemudian hal yang paling penting yang harus diperhatikan seorang calon perekam medis professional adalah ekspektasi yang tinggi dari stakeholder di lapangan terhadap lulusan pendidikan rekam medis. Sudah banyak saya mendengar curahan hati lulusan rekam medis yang dituntut untuk bisa mengubah sistem rekam medis berbasis konvensional menjadi rekam medis berbasis elektronik di tempat mereka bekerja.

Maka dari itu, penguasaan dan wawasan terkait teknologi informasi bagi perekam medis dan informasi kesehatan adalah wajib hukumnya.

Post to Twitter Tweet This Post Post to Facebook Share Link on Facebook

2 comments on this post.
  1. Yan Saputra:

    Terimakasih untuk penulis yang sudah berbagi ilmunya. jgn pernah lelah membagi ilmu. Semangat! Saya juga ada beberapa artikel yang sama, bisa anda baca di <a href="http://www.lepkom.gunadarma.ac.id/">Lembaga Pengembangan Komputerisasi
    </a>

  2. Nurul Dinny:

    Saya tertarik dengan tulisan diatas. Informasi yang anda berikan sangat bermanfaat & menambah pengetahuan saya. Saya mempunyai bahasan serupa yang bisa anda kunjungi di http://ps-tsi.gunadarma.ac.id

Leave a comment






− three = 1