FAQ Rekam Medis

Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008

Pasal 1 menyebutkan:

Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien”(ayat 1).

Pasal 2 menyebutkan:

Rekam medis harus dibuat secara tertulis, dan jelas atau secara ELEKTRONIK”(ayat 1)

Penyelenggaraan rekam medis dengan menggunakan teknologi informasi elektronik diatur lebih lanjut dengan peratutan sendiri”(ayat 2).

Pasal 12 menyebutkan:

BERKAS rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan”(ayat 1) dan “ISI rekam medis merupakan milik pasien” (ayat 2).

Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 merupakan dasar hukum yang mengatur tentang rekam medis, merevisi peraturan sebelumnya yaitu Permenkes No. 749a/Menkes/PER/1989 yang telah dinyatakan tidak berlaku lagi. Ayat-ayat di atas akan saya gunakan sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke inbox saya baik itu melalui e-mail maupun social media terkait rekam medis. Mari kita mulai dari pertanyaan-pertanyaan ringan yang banyak ditanyakan calon mahasiswa maupun mahasiswa baru (yang masih awam tentang rekam medis).

“Apa itu rekam medis?”

Silahkan tengok Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 pasal 1 ayat 1. Rekam medis berisi catatan (tulisan, gambar, dan file multimedia) yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang telah memberikan pelayanan kepada pasien yang bersangkutan. Tengok juga cerita saya disini.

“Kalau kuliah di jurusan rekam medis apa saja yang dipelajari?”

Banyak, mulai dari manajemen, dasar akuntansi, ilmu penyakit, desain, hingga teknologi informasi. Hanya saja core utama yang dipelajari adalah ilmu penyakit dan manajemen unit kerja rekam medis. Meskipun petugas rekam medis tidak memberikan pelayanan medis (tindakan kuratif) secara langsung tetapi dia harus tahu dan paham tentang istilah medis dan terminologinya.

Ingin bekerja di bidang kesehatan tapi takut sama darah? Ambil kuliah rekam medis saja (kata temen saya)

“Perekam medis kerjanya ngapain sih?”

Kerjaannya banyak, mulai dari TPP (tempat penerimaa pasien/pendaftaran), filing (penyimpanan berkas rekam medis) sampai ke statistik dan pelaporan. Bahkan ada juga yang bekerja di bagian keuangan dan bagian IT.

Banyak orang awam yang mengira rekam medis itu sama dengan radiographer, oooh.. itu jauh sekali bedanya nona :)

“Prospek perekam medis beberapa tahun ke depan gimana?”

Masih sangat bagus, banyak sarana pelayanan kesehatan yang belum memiliki tenaga rekam medis lulusan pendidikan tinggi rekam medis (kebanyakan saat ini lulusan SMA). Simak juga cerita saya disini.

“Kalau lulusan SMA aja bisa ngelakuin kerjaan perekam medis, ngapain butuh lulusan pendidikan tinggi?”

Karena dulu belum banyak institusi pendidikan rekam medis, lulusannya masih sedikit dan bidang rekam medis memang belum menjadi prioritas pengembangan di sarana pelayanan kesehatan.

Kalau saat ini?

Kualitas rekam medis menjadi prioritas, tenaga perekam medis professional (lulusan pendidikan tinggi) sangat dibutuhkan karena memang ilmu tentang rekam medis hanya dipelajari di bangku kuliah baik teori maupun praktiknya.

Masing ngeyel? Kelaut aje sono.. heheheh

“Perekam medis gajinya berapa?”

Heheh.. tanya sama yang kerja di lapangan ya, atau kalau mau tahu gambarannya bisa dilihat disini.

===========

Nah, mari berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan tentang rekam medis berbasis elektronik.

“Apakah rekam medis elektronik (RME) sudah memiliki dasar hukum?”

Tengok Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 pasal 2 ayat 1 dan 2. Memang belum ada peraturan yang spesifik membahas rekam medis elektronik. Para pengembang RME saat ini masih berpijak pada PP Nomor 82. Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

“Kalau sudah pakai RME kebutuhan tenaga perekam medis jadi berkurang dong? Semua sudah difasilitasi oleh sistem, bahkan untuk kodefikasi diagnosis dan tindakan”

Page 1 of 2 | Next page