Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

Implementasi SIMPUS?

Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh rombongan Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk mendengarkan pengajian dari saya, heheheh.. ngawur. Tadi pagi rombongan sudah terlebih dahulu melakukan kunjungan ke Puskesmas Kotagede 1, sudah menyaksikan bagaimana Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) diterapkan disana. Memang butuh waktu yang panjang sampai akhirnya SIMPUS bisa diimplementasikan dan digunakan secara maksimal oleh seluruh puskesmas di wilayah Pemkot Yogyakarta. Proses implementasi SIMPUS di Yogyakarta sendiri sudah berjalan sejak tahun 2005.

Siang harinya adalah bagian saya menyampaikan materi sekaligus mengadakan sesi curhat dan konsultasi untuk Bapak dan Ibu dari Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara. Di sana SIMPUS mulai diimplementasikan sejak tahun 2011, dan baru berjalan satu bulan SIMPUS-nya sudah tidak bisa dipakai, entah apa yang terjadi, yang jelas akses internet masih bisa dipakai tetapi SIMPUS-nya sudah tidak bisa dipakai. Padahal pengadaan akses internet di puskesmas kan salah satu tujuannya supaya bisa menggunakan aplikasi SIMPUS yang dipasang di server dinas kesehatan setempat. Kenapa tidak ada tindak lanjut? Apakah vendor tidak mau bertanggungjawab? Atau memang kontraknya cuma beli putus? Tidak ada proses maintenance? Ah semunya masih misteri, soalnya beliau-beliau juga tidak tahu menahu :D

Diskusi berlanjut, kemudian saya menanyakan “Apakah saat implementasi ada pendampingan dari vendor?”, mereka menjawab “tidak ada”, alias sistem ini langsung diimplementasikan, ditinggal begitu saja, pokoknya user di puskesmas harus bisa dan mau menggunakan, tapi begitu ada masalah tidak ada tindakan untuk perbaikan. Nah ini yang membuat implementasi e-government di Indonesia banyak yang gagal, tidak tuntas, dan tidak ada keberlanjutan.

Banyak hal yang harus diperhatikankan sebelum mengimplementasikan sistem berbasis elektronik, diantaranya:

  1. Kemampuan SDM, apakah SDM setempat sudah siap menggunakan sistem berbasis elektronik, jika belum maka perlu dilakukan pelatihan terlebih dahulu pra-implementasi supaya para calon pengguna lebih familiar dengan sistem terkomputerisasi.
  2. Needs Assessment atau analisis kebutuhan sistem, tahap ini harus dilakukan di awal, harus jelas dan detail mengenai sistem yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan calon pengguna.
  3. Kontrak dengan vendor, harus disusun dengan matang, harus ada pendampingan di awal implementasi, maintenance secara periodik dan pendampingan kembali di periode tahun berikutnya setiap kali ada update sistem.
  4. Sarana dan prasarana, hardware harus siap terlebih dahulu, jaringan komputer juga harus sudah tersedia sebelum implementasi sistem.
  5. Master Plan, perlu dibuat perencanaan dalam bentuk master plan yang mencakup keempat faktor di atas sehingga implementasi sistem berbasis elektronik benar-benar sudah dipersiapkan dengan matang sebelumnya.

Tidak terasa waktu sudah mendekati malam, akhirnya diskusi hari ini kami akhiri. Semoga ada oleh-oleh ilmu yang bermanfaat untuk rombongan Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara, semoga implementasi SIMPUS berikutnya bisa sukses, dan semoga kapan-kapan saya bisa diundang kesana untuk mendampingi implementasi SIMPUS Bapak dan Ibu sekalian, heheheh.. ngarep. Sampai berjumpa lagi :)

Post to Twitter Tweet This Post Post to Facebook Share Link on Facebook

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


nine × = 27