Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

RKE = khayalan?

Saya teringat “slentingan” Pak Sis Wuryanto pada seminar “Menuju Era Rekam Kesehatan Berbasis Elektronik” dalam rangka MUSDA ke VI DPD PORMIKI DIY. Beliau berkata “Kenapa temanya koq menuju era rekam kesehatan elektronik? Dari dlu koq menuju terus? Ya lebih baik menuju daripada meninggalkan..”, ya saya setuju dengan pendapat Pak Sis, tapi sampai kapan kita akan terus menuju? Kapan sampainya?

Analoginya pembangunan dapat dikatakan dimulai jika sudah ada peletakan batu pertama, nah ini jangankan peletakan batu pertama, sampai di lokasi pembangunannya pun kita belum. Sekian banyak diskusi, workshop, seminar dan gagasan ilmiah tentang Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) selama ini terkesan hanya sebatas angan yang masih jauh dari kenyataan untuk diwujudkan. Terkadang kita sendiri yang mencari celah agar RKE itu tidak terwujud, dengan alasan dana, payung hukum, sekuritas, kesiapan SDM, dan lain-lain. Tidak ada titik temu, dan tidak ada ketegasan dari Departemen Kesehatan sehingga terkesan masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan bergerak sendiri-sendiri sesuai idealisme meraka. Padahal RKE itu butuh standarisasi, keseragaman, karena akan diterapkan dalam lingkup nasional. Dan satu hal lagi, bagaimana mungkin RKE diwujudkan jika sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan belum memperthatikan dan menyadari arti penting rekam medis/ rekam kesehatan.

RKE bukan soal dana

Menurut saya hambatan terbesar terwujudnya RKE bukan pada soal pendanaan. Saya menyampaikan ini bukan tanpa dasar, kita tentu ingat kemarin bahwa dana studi banding pemerintah dan DPR mencapai 19,5 Triliun. Mari berandai-andai, kalau pemerintah mau menyisihkan 50 M saja, pasti RKE bisa diwujudkan. Misalkan, penerapan RKE tahap awal adalah di 15 RSUP dan RSK yang juga dijadikan rumah sakit perintis untuk pelaksanaan INA-DRG, satu rumah sakit diberi dana 3 M sehingga total dibutuhkan dana 45 M, kemudian 5 M sisanya digunakan untuk operasional termasuk penyusunan payung hukum yang legal sebagai dasar pelaksanaan RKE. Ya, namun sekali lagi saya hanya berandai-andai.

Hambatan terbesar menurut saya adalah faKtor kesiapan SDM. Apakah mereka sanggup menerima perubahan? Apakah mereka mampu memanfaatkan teknologi?

Ini tugas kita bersama untuk menghasilkan SDM Kesehatan yang “melek” teknologi. Tentu tidak mudah memang, dibutuhkan komitmen dari seluruh Institusi Pendidikan di bidang kesehatan untuk memberikan porsi yang lebih besar tentang RKE, termasuk teknologi informasi dan penerapannya pada bidang kesehatan di dalam kurikulum atau silabus pendidikannya.

RKE yang ideal

Jika berbicara tentang RKE yang ideal maka “khayalan” saya adalah sebuah kartu pasien bisa digunakan di institusi pelayanan kesehatan mana pun di Indonesia, layaknya kartu ATM yang bisa digunakan di semua mesin ATM di seluruh Indonesia. Pada taraf ini, maka sebenarnya sudah sampai pada konsep Personal Health Information (PHI), di mana informasi kesehatan pasien dimiliki sendiri oleh pasien pada microchip yang tertanam pada kartu pasien. Sehingga data riwayat kesehatan pasien akan terekam dengan detail dari semenjak ia lahir hingga ia memperoleh pelayanan kesehatan yang terakhir. Sekali lagi ini baru “khayalan” saya yang sangat sangat mungkin untuk diwujudkan.

Arti penting Rekam Medis/ Rekam Kesehatan

Tetapi memang kita juga harus realistis, jangankan sistem elektroniknya, sistem yang manual pun belum banyak diperhatikan oleh sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Rekam medis sebagai core utama informasi kesehatan masih dianggap sebelah mata. Ruang rekam medis diletakkan di paling belakang, bahkan ada yang di basement. Para pegawai / petugas rekam medis juga kebanyakan adalah orang-orang yang sudah sepuh, kebanyakan lulusan SMA atau lulusan pendidikan tinggi yang tidak spesifik mempelajari tentang rekam medis atau rekam kesehatan.

Dengan kenyataan seperti ini, sangat dibutuhkan para professional perekam medis yang diharapkan mampu merubah paradigma tentang rekam medis, bahwa rekam medis adalah komponen yang sangat penting bagi fasilitas pelayanan kesehatan. Rekam medis bukan sekedar kumpulan berkas, lebih dari itu merupakan sumber informasi yang sangat berharga yang harus dikelola dan di-manage dengan baik.

Sekarang institusi pendidikan rekam medis dan informasi kesehatan semakin banyak. Diharapkan masing-masing institusi tersebut akan melahirkan calon-calon professional perekam medis masa depan.

Post to Twitter Tweet This Post Post to Facebook Share Link on Facebook

15 comments to RKE = khayalan?

  • kapan ada waktu untuk sharing mas???

  • ayuk, kapan??
    Sabtu besok (23/10) saya ngisi seminar TA di UGM :)
    paginya bisa ketemu ma temen2..

  • Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku :
    http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  • OK, mas Yohan.. trimakasih sudah berkunjung.. :)

  • warsi

    mas…
    mu bagi-bagi info nih..
    aku mhs apikes citra medika Surakarta
    tanggal 18 des 2010, akan ada seminar nasional di hotel dana.
    “PERANAN RKE DALAM PENERAPAN INA DRGs”
    info lebih lanjut bisa dilihat di http://www.apikescm.as.id
    thaks…

  • APIKES Citra Medika – Surakarta akan menyelenggarakan :

    Seminar Nasional “Peranan Rekam Medis Elektronik (RKE) dalam Penerapan INA-DRGs”.
    Sabtu, 18 Desember 2010
    Hotel Dana
    Jl. Slamet Riyadi 286 – Surakarta – Jateng.

    Narasumber : …

    - Elise Garmelia, AMd.Per.Kes, SKM (Ketua umum PORMIKI)
    “Peran Profesional Rekam Medis dalam Pelaksanaan INA-DRGs”

    - dr. Rorry Hartono, Sp.F, M.H (Kepala Bidang Bindal Sumber Daya Kesehatan Dinkes Jateng)
    “Implementasi RKE Ditinjau dari Aspek Hukum Kesehatan”

    - dr. Rano Indradi S, M.Kes (Health Information Management consultant)
    “Pemanfaatan RKE Untuk Menunjang Pelaksanaan INA-DRGs”

    Kontribusi :
    - Mahasiswa Rp 75.000,-
    - Umum Rp 100.000,-

    Fasilitas :
    - Sertifikat 2 SKP dari DPP PORMIKI
    - Doorprize
    - Smart kit
    - Hand out
    - Coffee break
    - Lunch

  • RKE sebuah impian dan cita cita, semoga ada pelopor utama yang menjembatani berdirinya. salam canggih dari ank apikes CM solo.

  • Satulagi mas? salam kenal. hi..hi..hi… Salam Informatika Kesehatan

  • salam canggih dan salam kenal juga :D

  • Hi! I’ve been following your weblog for some time now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Porter Texas! Just wanted to tell you keep up the great job!

  • I do love the way you have presented this problem and it does indeed present us a lot of fodder for thought. Nevertheless, from what I have observed, I simply trust as other responses stack on that people stay on issue and don’t embark on a soap box regarding some other news du jour. Anyway, thank you for this fantastic point and even though I do not necessarily concur with this in totality, I value the standpoint.

  • dhey

    Salam kenal mas..
    RKE harus punya dasar hukum yg kuat.
    kalau udah da dasar hukum’y & udah da dana yg cukup Insya Allah RKE akan terlaksana.

  • salam kenal dhey,
    betul sekali, maka dari itu sebenarnya dasar hukum dan dana dapat disediakan jika memang serius mau menerapkan RKE.
    Yang menjadi masalah adalah pasti akan banyak saling tarik menarik kepentingan karena ini menyangkut dana yg besar,
    disisi lain faktor kesiapan SDM jg jd key factor, implementasi akan gagal jika SDM belum siap/disiapkan :)

  • FITRI

    mas….boleh tanya gk saya ingin membuat ta dan skripsi ttg rekam medis yg berhubungan dengan dunia farmasi karena di dalam berkas rekam medis itu tercantumg ttg infomadi obat kira2 judulnya apa ya?

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


nine + 5 =