Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

Renungan bagi Para Pejuang Rekam Medis

Beberapa waktu belakangan banyak dibahas tentang Rekam Kesehatan Elektronik (RKE), banyak seminar tentang RKE yang dengan “iming-iming” SKP dibanjiri banyak peserta terutama mahasiswa rekam medis. Sejenak kita dibawa “berkhayal” tentang suatu konsep penerapan teknologi informasi di bidang informasi kesehatan. Bagaimana nantinya informasi kesehatan bisa dikelola dengan efektif dan efisien, diproses dengan cepat, ditunjang dengan sistem pendukung keputusan (decision support system), serta kelebihan-kelebihan lain dari RKE yang banyak “digembor-gemborkan”.

Paradigma kita secara tidak langsung telah “dirubah”, kita membayangkan instalasi rekam medis di fasilitas pelayan kesehatan adalah sebuah unit kerja yang berbasiskan teknologi informasi, cukup berinteraksi dengan komputer dan semua proses bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Jika mind set kita seperti ini maka bersiaplah menerima kenyataan pahit di luar sana.

Mari kita sejenak melakukan refleksi, kita pandang sistem rekam medis di Indonesia dari sudut pandang yang lain.

  1. Apa itu Rekam Medis?
  2. Bagaimana keadaan sistem rekam medis di Indonesia?
  3. Bagaimana pemerataan dan kompetensi SDM-nya?

Rekam Medis

Rekam Medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang ditulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien tersebut (Health Information Management, Edna K Huffman, 1999).

Rekam Medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien di sarana pelayanan kesehatan (SK Men PAN no.135 tahun 2002)

Rekam Medis Elektronik adalah adalah lingkungan aplikasi yang tersusun atas penyimpanan data klinis, sistem pendukung keputusan klinis, standarisasi istilah medis, entry data terkomputerisasi, serta dokumentasi medis dan farmasi. EMR digunakan oleh paramedic untuk mendokumentasikan, memonitor, dan memanage pelayanan kesehatan yang diberikan pada pasien di fasilitas pelayanan kesehatan. Data dalam EMR merupakan rekaman legal dari pelayanan yang telah diberikan pada pasien dan data tersebut disimpan serta dimiliki oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

Keadaan Sistem Rekam Medis di Indonesia

Mari kita sedikit melakukan analisis, kira-kira berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang sudah menerapkan Rekam Medis Elektronik?

Berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang masih menggunakan sistem rekam medis manual?

Dari yang masih manual tersebut berapa banyak rumah sakit yang mengelola rekam medis-nya dengan “baik”?

Berapa banyak rumah sakit yang memperhatikuan mutu dari pelayanan rekam medisnya?

Semua jawaban tertuju pada satu kesimpulan, bahawa sistem rekam medis di Indonesia masih jauh dari bayangan kita yang selama ini selalu “dicekoki” dengan konsep RKE.  Mari kita renungkan bersama^^

Pemerataan dan Kompetensi SDM

Jika kita berkunjung ke wilayah Jakarta dan Yogyakarta misalnya, pasti sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatannya memiliki lulusan D3 Rekam Medis di Instalasi Rekam Medis-nya. Paling tidak sistem rekam medisnya sudah dikelola dengan cukup baik mengingat di 2 kota tersebut banyak berdiri institusi pendidikan rekam medis. Kesadaran tentang pentingnya rekam medis di fasilitas pelayanan kesehatan pada wilayah tersebut pasti sudah mulai tumbuh. SDM-SDM di dalamnya juga pasti mau diajak maju, mengembangkan sistem rekam medis agar menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana dengan sistem rekam medis di luar kota-kota besar tersebut? Di luar Jawa misalnya? Yang notabene pasti masih sangat jarang memiliki tenaga perekam medis yang “berkompeten” dalam artian telah menempuh pendidikan di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Bagaimana jika Anda seorang lulusan rekam medis (fresh graduated) kemudian Anda ditempatkan di daerah-daerah tersebut yang sistem rekam medisnya masih sangat jauh dari bayangan kita.. yang orang-orang di dalamnya adalah orang-orang “sepuh” yang biasanya susah diajak maju?

Mari kita renungkan bersama lagi^^

Penutup

Kesimpulan dari opini dan pertanyaan saya yang “ngalor-ngidul” itu adalah sebelum kita berfantasi terlalu jauh tentang RKE, mari kita fokus mempersiapkan diri sebelum benar-benar terjun di lapangan kerja. Semua butuh perjuangan, tanamkan dalam diri kita bahwa rekam medis elektronik tidak akan berjalan dan terwujud jika sistem manualnya saja masih berantakan. Tugas kita untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem rekam medis di Indonesia. Bersiaplah untuk menghadapi badai “konvensional” dan pikiran-pikiran “kolot” di luar sana wahai para pejuang^^

Kita memang tidak bisa merubah arah angin, tapi kita bisa merubah dan mengatur posisi layar agar kapal bisa bergerak menuju tujuan yang kita inginkan

Post to Twitter Tweet This Post Post to Facebook Share Link on Facebook

17 comments to Renungan bagi Para Pejuang Rekam Medis

  • wong edan

    Pertamax lagi,………
    hem sambil berpikir dan membayangkan apa yang terjadi jika kita terdampar disuatu tempat dimana praktisi-praktis kesehatanya belum sadar arti pentingnya manajemen informasi kesehatan !! apakah saya, anda, dan yang lainya siap ?? memghadapi situasi yg carut marut itu, apakah kita bisa menjadi motor penggerak untuk membenahi sistem yg telah ada, dengan kondisi sarana dan prasarana yg mungkin sangat terbatas ???

  • itulah kenapa “perekam medis” saya sebut sebagai “para pejuang”, gelar ini diperuntukan bagi mereka yg memang berjuang untuk memperbaiki sistem rekam medis di institusinya.
    Para pendahulu kita yang notabene kini menjadi tokoh rekam medis pasti juga telah melewati perjuangan berat itu. Jangan sampai di tanah perjungan nanti kita terbawa tiupan angin tanpa arah yg jelas.. mengikuti arus, kita harus bisa mengendalikan nakoda kapal agar tertuju pada tujuan yang kita inginkan..
    U’ve an important role in health care institution.

  • wong edan

    menurut saya Tidak layak disebut PEJUANG,…….
    Karena Sebagian besar dari kita hanya menjadi anak yg manja mengikuti sistem yg telah baik,disini d jawa,tanpa berani mengambil resiko bekerja diluar sana, dimana semuanya belum terta dengan baik,……

    miris pernah medengar kata-kata “yang penting udah jadi PNS yah mau apa/bagaimana yoh ben” hadehh,……. kapan derajat perekam medis mau naik kalau pemikiran sebagian dari orang-orang yg berkecimpung didunia tersebut sangat cetek,….

    aq punya suatu impian kelat 5 atau 6 taun lagi banyak bermunculan ahli perekam medis yang kopeten dan memiliki niat memajukan dan mengembangkan ilmu rekam medis, sehingga jurusan rekam medis tidak lagi dipandang sebelah mata.

    apakah ini sekedar mimpi belaka ??

  • gelar ini diperuntukan bagi mereka yg memang berjuang untuk memperbaiki sistem rekam medis di institusinya.

    jd klo memang yg Anda maksud adalah lulusan rekam medis yg “manja”, maka jelas mereka tidak layak disebut pejuang..
    pejuang punya mimpi, punya cita-cita jangka panjang mengembangkan sistem rekam medis di Indonesia, bukan sekedar jd pegawai, PNS, lalu tidak punya keinginan utk berkembang.. wah.. wah.. ini mind set para perekam medis harus dirubah,,

    Mari para generasi baru perekam medis, buatlah inovasi.. jangan sampai kalian hanya dipandang sebelah mata,,

  • wong edan

    hehhe bisa bicara seperti diatas didorong rasa sakit hati,….
    saya sebagai seorang anak rantau pasti memiliki kebiasaan setaun sekali balik ke kampung halaman,……

    dipesawat pernah terjadi percakapan dengan kawan seperjalanan, sekian lama bercakap-cakap, topik pembicaraan menjurus ke masalah pendidikan yg kita ambil, terlontar sepotong pertanyaan dari kawan seperjalan tersebut “kuliah dimana ??” q jawab “di ***”, “wah sama dong dek”, ambil jur ap ?”, q jawab “Rekam medis”, “wah ada kah ??, jurusan apa itu”, dan banyak lagi pertanyaan yg membuat q menangis dalam hati. . . . .

    Rekam medis ??? kata ini masih sangat asing ditelinga orang- orang yang tinggal sepulau dengan diri q…….. T_T

  • wah.. cerita Anda sama dengan cerita saya waktu pulang naek kereta berarti.. hehe..

    ya karena itu kita sebagai generasi perekam medis harus bisa mengangkat citra profesi kita.
    Di luar negeri, misal di USA, profesi medical records sangat diminati, bahkan untuk profesi medical coding and billing bisa digaji dengan tarif per-jam dengan penghasilan antara $35.000 hingga $45.000,- per tahunnya.. wouw..

    kapan profesi Perekam Medis di Indonesia menjadi sebegitu prestisius??

  • siti

    agak susah untuk memperjuangkan sistem informasi kesehatan berbasis komputer sebagai bakal calon RME. Ada banyak kepentingan di setiap institusi untuk mendapatkan proyek ini, apalagi saya bukan seorang dokter, sehingga idealisme akan meredup, karena kalah oleh kepentingan……. walaupun sudah gagal berkali-kali, dan menghabiskan ratusan juta, selama banyak “kepentingan” teori tidak akan pernah digunakan dalam kita membuat SIRS (kecewa.com)

  • >mbak siti:
    ya benar sekali, karena itu sebaiknya pemerintah terutama dinas kesehatan harus membuat peraturan yg jelas, yg mengatur semua aspek ttg RKE/RME, trutama terkait payung hukum yg banyak diperdebatkan,,
    klo masing2 institusi jalan sendiri2 y jadinya begitu, banyak kepentingan, gak ada yg ngatur, malah gak jalan2..

    hehe.. tp yg penting pelayanan secara manual jg harus baik dulu..
    percuma klo sudah elektronik tp kualitas pelayanannya jg belum bs meningkat :D

  • [...] memang kita juga harus realistis, jangankan sistem elektroniknya, sistem yang manual pun belum banyak diperhatikan oleh sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Rekam medis sebagai core utama [...]

  • maria

    boleh tau dimana bsa kita mengambil jurusan rekam medik? Saya minta tolong di kirim ke e-mail saya, soalnya sangat mendesak, trimakasih

  • >maria: OK, mbak maria, sudah saya kirim ke email Anda :)

  • marieza tyas

    Td nya sya enggan u/ kul jur RM tp setelah masuk kedalam nya sangat mengasikkan. Alhamdulilah sekali skg dah krja walo diPuskesmas tp sdah sistem elektronik.Prtama krja mmg sangat,sangat,sangat,susah sekali.U/ mengubah sistem tp krn di dukung Ka Puskesmas yg selalu ingin maju,maka pelan tapi pasti skg sdah memberikan hasil.Dari SimPus skg berkembang SimKes,bahkan skg pelaporan menggunakan email ke Dinas.
    Pertama selalu dicemooh,di bilang menghamburkan uang puskesmas u/ pembelian komputer,bayar listrik dll.
    Tapi kalo ada niat n usaha Insyallah selalu ada jalan.
    Do the best..

  • trimakasih mbak marieza atas sharing pengalamannya, semoga bs djadikan motivasi bagi teman2 seperjuangan :)

  • Mas E

    Begini mas, saya adalah salah satu mahasiswa RM angkatan pertama pada sekolah tinggi swasta di Kal-Sel, mendengar sharing mba2 n mas2 tadi masalah pejuang RM saya sendiri mungkin sedikit mempunyai pengalaman yang lebih miris, dimana pada saat saya magang hampir setiap RSUD di Kal-Sel menganggap bahwa rekam medis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh sekedar tamatan SMA. Sering timbul banyak pertanyaan yang harus saya telan pahit2…… yang seakan2 RM dibutuhkan hanya sebagai pelengkap syarat jika RS akan melakukan Akreditasi….
    Merubah pandangan RM hanyalah pekerjaan masalah berkas memberkas, tulis menulis dan hanya berhubungan dengan kertas keliatannya sulit untuk dirubah ………
    Beruntunglah di wilayah mas2 n mba2 menjadi seorang perekam medis adalah salah satu SDM yang diperhitungkan….. ?
    Trimakasih

  • kita lah yg harus merubah pandangan mereka tentang kita, tunjukkan kompetensi, karena kedepannya Rekam Medis akan semakin diperhitungkan,
    semangat..!! :D

  • Azka shiraz

    “Kita memang tidak bisa merubah arah angin, tapi kita bisa merubah dan mengatur posisi layar agar kapal bisa bergerak menuju tujuan yang kita inginkan“

    SETUJU??!!
    analoginya seperti rumpunan bambu,ketika dia tertiup angin..ia flexisible bisa mengatur posisi,bukan seperti pohon besar tpi akhirnya dia rubuh juga krn beban angin yg tdk bsa ia tahan…(iyo ra si?) hehe

  • >azka: hehe, seperti hukum kekelan energi, “energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tapi energi bisa dirubah bentuknya” :D

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


seven + = 10