|
|
By Dian Budi Santoso, on May 9th, 2012
Tanggal 14 Maret 2012 kemarin saya diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dalam seminar dengan tema “Technopreneurship” di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Karena yang menjadi panitia adalah mahasiswa dari Jurusan Teknik Informatika maka perkiraan saya yang menjadi peserta juga orang-orang yang berkecimpung di dunia IT. Ternyata perkiraan saya agak meleset, sebagian besar peserta justru mahasiswa non-IT. Walhasil saya pun berbicara sedikit di luar konteks dari apa yang saya tampilkan di slide. Lha wong yang saya tulis di slide sebagian besar terkait teknis IT je (pake logat jogja).
Sebenarnya materi yang saya bawakan sesuai temanya adalah “Membangun Start-Up Modal Nekat”, terkait kewirausahaan dalam bidang IT kan semua pasti tertuju pada kata “Start-Up”, sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang IT entah itu berbentuk software house, game studio, social networking, e-commerce, dan lain-lain. Banyak contoh mahasiswa IT yang sukses dengan start-up-nya, bahkan sampai keluar dari kuliah layaknya Mark Zuckerberg (CEO Facebook). Tapi contohlah yang baik-baik saja, jangan sampai kuliah keteteran apalagi sampai ditinggal, diusahakan semua berjalan seimbang, bisnis jalan, kuliah juga jalan. Jangan seperti saya juga, kuliah jalan, eh usahanya gak jalan-jalan, hehe.. wirausaha itu bukan sekedar konsep melainkan aksi, mental merupakan modal utama. Kalau udah punya mental usaha, udah deh.. pasti usahanya jalan, tinggal menambah modal dan memperkaya pengetahuan di bidang bisnis yang Anda jalani. Jangan takut jatuh, jatuh itu wajar dalam sebuah pembelajaran, yang tidak wajar adalah Anda terlalu lama terbaring dan tidak segera bangun, kalau dibelakangnya ada truk tronton kayak di film transformer bisa ketlindes ente (pake logat jakarte). » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on April 9th, 2012
Sudah 2 tahun semenjak website ini diluncurkan, dari awal memang saya lebih memfokuskan materi blog ini ke arah rekam medis dan informasi kesehatan. Melalui website ini saya mendapat banyak sekali kenalan baru dari seluruh Indonesia baik itu lewat facebook, twitter maupun yang langsung menghubungi saya via mobile. Dan dari mereka juga saya tahu bahwa pendidikan rekam medis kini telah berkembang pesat dan menyebar ke seluruh Indonesia.
“Pak, alhamdulillah sekarang saya sudah menjadi PNS dan ditempatkan di sebuah Puskesmas di daerah. Tetapi sepertinya saya masih diperebutkan hehe,, kemarin RSUD setempat mengajukan ke BKD untuk meminta tambahan tenaga perekam medis, sehingga kemungkinan saya akan dimutasi ke RSUD”. Ini adalah keterangan rekan saya di daerah yang mengatakan bahwa tenaga PNS rekam medis masih sangat kurang.
“Pak, di tempat saya bekerja perekam medis sangat disepelekan, katanya kalau cuma ndaftar pasien dan ambil berkas lulusan SMA-pun bisa.. terus sekarang rumah sakit sedang mengembangkan SIMRS dan kalau SIMRS itu sudah jadi nanti dokternya yang coding diagnosis sendiri langsung input setelah pelayanan, mereka tidak butuh tenaga rekam medis lagi”. Ini adalah curhatan salah seorang follower saya di twitter, beliau bekerja di salah satu rumah sakit di Pulau Kalimantan sana. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on February 27th, 2012
Saya termasuk salah satu dari korban industri sepak bola yang sudah merajalela. Dulu waktu kecil awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan sepak bola, tapi karena tren waktu itu Liga Italia sedang “panas” di Indonesia jadi saya juga ikut-ikutan nonton yang “panas” seperti teman-teman yang lain. Akhirnya saya juga ikut kecanduan, dan Inter Milan adalah tim saya gilai hingga saat ini, mau waktu pertandingannya tengah malam atau dini hari pun saya selalu mencoba menyempatkan untuk nonton. Ya itulah awalnya saya jadi pecandu sepak bola. Meski tidak memiliki bakat mengolah si kulit bundar, setidaknya saya punya bakat buat main game sepak bola. Buktinya saya pernah dijuluki (lebih tepatnya menjuluki diri saya sendiri) raja PES (Pro Evolution Soccer) Blimbingsari, ya blimbingsari adalah dukuh tempat saya tinggal dari saat kuliah hingga saat ini.
Oscar Leonard Carl Pistorius (25) pelari dunia 400 meter penyandang cacat asal Afrika Selatan, terpilih untuk menerima penghargaan tertinggi di dunia sebagai olahragawan penyandang cacat dunia terbaik 2011. Pistorius yang menggunakan kaki palsu dari serat karbon terpilih karena mampu meraih medali perak saat membela negaranya saat turun pada nomor 4 x 400 meter, di Kejuaraan Dunia Atletik Daegu 2011 lalu. Sementara kejuaraan itu bukan merupakan kejuaraan bagi penyandang cacat. Wouw.. seorang yang cacat dengan kaki palsu mampu bersaing dengan orang normal pada kejuaraan dunia atletik, bayangkan teman-teman
Yu Zhenhuan adalah cowok China yang memiliki bulu di sekujur tubuhnya. Ia dijuluki sebagai manusia yang paling banyak memiliki bulu di dunia. Secara logika, dengan keterbatasannya itu, mungkin ia akan sulit mendapatkan seorang istri. Faktanya, ia memiliki istri yang cantik. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on January 17th, 2012
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa konsep “Rekam Medis Elektronik” dan “Rekam Kesehatan Elektronik” itu berberda (baca tulisan saya sebelumnya). Selama ini orang awam bahkan pemerintah masih mencampuradukkan konsep RME dan RKE.
RME adalah lingkungan aplikasi yang tersusun atas repository data klinis, sistem pendukung keputusan klinis, standarisasi istilah medis, entri data pelayanan medis dan dokumentasi klinis. Lingkungan aplikasi ini mendukung layanan rawat jalan maupun rawat inap dan digunakan oleh pemberi layanan kesehatan untuk mendokumentasikan, memonitor dan memanage asuhan perawatan di sarana pelayanan kesehatan atau CDO (Care Delivery Organization). Aplikasi EMR ini dimiliki dan dikelola oleh sarana pelayanan kesehatan.
RKE adalah integrasi dari EMR di masing-masing sarana pelayanan kesehatan yang merepresentasikan rangkuman atau resume dari pelayanan yang dilakukan kepada masing-masing pasien. Data dalam RKE dimiliki oleh pasien dan dapat diakses di semua sarana pelayanan kesehatan yang telah memiliki RME dan terintegrasi ke dalam sistem RKE. Sistem RKE ini dapat teruwujud jika sudah ada standarisasi komunikasi data antar sistem RME di masing-masing sarana pelayanan kesehatan terkait. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 24th, 2011
Investasi dalam jumlah yang sangat besar telah ditanamkan di seluruh dunia untuk membangun sistem informasi kesehatan terkomputerisasi. Estimasi biaya dari setiap rumah sakit besar adalah sekitar 50 juta USD atau sekitar 400 milyar rupiah. Namun ketika sistem tersebut dievaluasi setelah 3 bulan berjalan, dapat dikatakan bahwa sistem tersebut gagal dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa sistem tersebut dapat meningkatkan produktifitas profesi kesehatan.
Untuk menghasilkan informasi yang berguna sebagai dasar pengambilan keputusan, evaluasi dari sistem informasi rumah sakit terkomputerisasi harus multidimensional, mencakup banyak aspek secara teknis fungsional. Sebuah proyek sistem informasi kesehatan terkomputerisasi di Afrika Selatan yang akan dijelaskan di bawah ini dapat kita jadikan rujukan bagaimana proyek itu dipersiapkan dan akhirnya gagal. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 24th, 2011
Pada tutorial kali ini saya akan menyampaikan cara membuat peta tematik sederhana tentang persebaran penyakit menggunakan program Epi Info dalam hal ini menggunakan fasilitas Epi Map. Sebelum mengikuti tutorial ini saya sarankan Anda terlebih dahulu membaca tutorial Epi Info yang dapat Anda download disini.
Untuk mengikuti tutorial ini yang Anda butuhkan adalah:
Program Epi-Info.
Database morbiditas, dalam hal ini adalah data penderita penyakit TB di Surakarta pada tahun 2010.
Template peta Surakarta
Contoh database morbiditas dan template peta dapat Anda download disini. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 9th, 2011
Memang tiap guru atau pendidik punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik, ada yang menjadi sosok teman dan sahabat yang sangat dekat dengan siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok galak hingga ditakuti siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok yang sangat lucu hingga para siswa pasti antusias saat pelajarannya, yang jelas mereka memiliki metode sendiri sesuai karakter mereka. Yang penting outputnya adalah materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik oleh anak didiknya.
Sangat disayangkan jika ada guru yang memang pandai secara akademik, tetapi mereka tidak pandai dalam menyampaikan pengetahuannya kepada para siswa. Akibatnya anak didik tidak antusias saat kelas berlangsung, tidak paham materi yang disampaikan dan banyak yang nyontek saat ujian.
Saya ingat saat kuliah dulu juga ada dosen yang membolehkan mahasiswanya tidak ikut kuliah, tetapi akan memberikan nilai A jika memang mampu mengerjakan soal ujiannya. Tapi dosen ini cukup tegas, jika ada yang ketahuan mencontek saat ujian maka dijamin nilainya pasti E. Ya walaupun metodenya agak “kontroversial” tapi metode inilah yang saya acungi jempol, karena saya bisa bebas membolos tapi tetap dapat nilai A (jangan ditiru, hanya orang-orang pilihan yang dapat melakukannya). Daripada ada dosen yang mewajibkan semua mahasiswanya hadir, tetapi saat menyampaikan materi seperti “ngomong sendiri” di depan kelas, selesai kuliah membagikan slide presentasi dimana semua materi ada disitu, dan saat ujian juga pasti yang keluar dari silde itu. Lalu buat apa para mahasiswa masuk kuliah kalau materinya bisa dipelajari sendiri di slide. Buang-buang waktu kan, kalau ada matakuliah yang dosennya seperti itu saya pasti juga sering membolos :p » Baca Selengkapnya..
|
Tentang saya Pria Kelahiran Purwokerto, 20 Nopember 1988. Terlibat dalam beberapa proyek terkait Dunia Pendidikan dan Informatika Kesehatan, menulis e-book, menjadi konsultan IT dan Manajemen Informasi Kesehatan, keluyuran ilmiah serta mengisi tutorial di berbagai forum dan kegiatan. Menyukai dunia edukasi terkait teknologi informasi dan rekam kesehatan. Selengkapnya..
Curriculum Vittae
Produk
Buku Tamu
|
Komentar Terbaru