|
|
By Dian Budi Santoso, on January 17th, 2012
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa konsep “Rekam Medis Elektronik” dan “Rekam Kesehatan Elektronik” itu berberda (baca tulisan saya sebelumnya). Selama ini orang awam bahkan pemerintah masih mencampuradukkan konsep RME dan RKE.
RME adalah lingkungan aplikasi yang tersusun atas repository data klinis, sistem pendukung keputusan klinis, standarisasi istilah medis, entri data pelayanan medis dan dokumentasi klinis. Lingkungan aplikasi ini mendukung layanan rawat jalan maupun rawat inap dan digunakan oleh pemberi layanan kesehatan untuk mendokumentasikan, memonitor dan memanage asuhan perawatan di sarana pelayanan kesehatan atau CDO (Care Delivery Organization). Aplikasi EMR ini dimiliki dan dikelola oleh sarana pelayanan kesehatan.
RKE adalah integrasi dari EMR di masing-masing sarana pelayanan kesehatan yang merepresentasikan rangkuman atau resume dari pelayanan yang dilakukan kepada masing-masing pasien. Data dalam RKE dimiliki oleh pasien dan dapat diakses di semua sarana pelayanan kesehatan yang telah memiliki RME dan terintegrasi ke dalam sistem RKE. Sistem RKE ini dapat teruwujud jika sudah ada standarisasi komunikasi data antar sistem RME di masing-masing sarana pelayanan kesehatan terkait. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 24th, 2011
Investasi dalam jumlah yang sangat besar telah ditanamkan di seluruh dunia untuk membangun sistem informasi kesehatan terkomputerisasi. Estimasi biaya dari setiap rumah sakit besar adalah sekitar 50 juta USD atau sekitar 400 milyar rupiah. Namun ketika sistem tersebut dievaluasi setelah 3 bulan berjalan, dapat dikatakan bahwa sistem tersebut gagal dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa sistem tersebut dapat meningkatkan produktifitas profesi kesehatan.
Untuk menghasilkan informasi yang berguna sebagai dasar pengambilan keputusan, evaluasi dari sistem informasi rumah sakit terkomputerisasi harus multidimensional, mencakup banyak aspek secara teknis fungsional. Sebuah proyek sistem informasi kesehatan terkomputerisasi di Afrika Selatan yang akan dijelaskan di bawah ini dapat kita jadikan rujukan bagaimana proyek itu dipersiapkan dan akhirnya gagal. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 24th, 2011
Pada tutorial kali ini saya akan menyampaikan cara membuat peta tematik sederhana tentang persebaran penyakit menggunakan program Epi Info dalam hal ini menggunakan fasilitas Epi Map. Sebelum mengikuti tutorial ini saya sarankan Anda terlebih dahulu membaca tutorial Epi Info yang dapat Anda download disini.
Untuk mengikuti tutorial ini yang Anda butuhkan adalah:
Program Epi-Info.
Database morbiditas, dalam hal ini adalah data penderita penyakit TB di Surakarta pada tahun 2010.
Template peta Surakarta
Contoh database morbiditas dan template peta dapat Anda download disini. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on November 9th, 2011
Memang tiap guru atau pendidik punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik, ada yang menjadi sosok teman dan sahabat yang sangat dekat dengan siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok galak hingga ditakuti siswa-siswinya, ada yang menjadi sosok yang sangat lucu hingga para siswa pasti antusias saat pelajarannya, yang jelas mereka memiliki metode sendiri sesuai karakter mereka. Yang penting outputnya adalah materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik oleh anak didiknya.
Sangat disayangkan jika ada guru yang memang pandai secara akademik, tetapi mereka tidak pandai dalam menyampaikan pengetahuannya kepada para siswa. Akibatnya anak didik tidak antusias saat kelas berlangsung, tidak paham materi yang disampaikan dan banyak yang nyontek saat ujian.
Saya ingat saat kuliah dulu juga ada dosen yang membolehkan mahasiswanya tidak ikut kuliah, tetapi akan memberikan nilai A jika memang mampu mengerjakan soal ujiannya. Tapi dosen ini cukup tegas, jika ada yang ketahuan mencontek saat ujian maka dijamin nilainya pasti E. Ya walaupun metodenya agak “kontroversial” tapi metode inilah yang saya acungi jempol, karena saya bisa bebas membolos tapi tetap dapat nilai A (jangan ditiru, hanya orang-orang pilihan yang dapat melakukannya). Daripada ada dosen yang mewajibkan semua mahasiswanya hadir, tetapi saat menyampaikan materi seperti “ngomong sendiri” di depan kelas, selesai kuliah membagikan slide presentasi dimana semua materi ada disitu, dan saat ujian juga pasti yang keluar dari silde itu. Lalu buat apa para mahasiswa masuk kuliah kalau materinya bisa dipelajari sendiri di slide. Buang-buang waktu kan, kalau ada matakuliah yang dosennya seperti itu saya pasti juga sering membolos :p » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 26th, 2011
Wacana tentang adopsi IT (Information Technology) di institusi baik itu pemerintah maupun swasta yang bergerak di berbagai sektor semakin mengemuka. Ada yang berhasil baik dalam penerapannya sehingga memaksimalkan performa organisasi, ada juga yang gagal bahkan infrastruktur IT yang telah dibangun tidak terpakai dan difungsikan secara optimal.
Kegagalan penerapan IT terutama terjadi di institusi-institusi pemerintah. Pengadaan infrastruktur IT di lingkup pemerintahan biasanya hanya berdasarkan keinginan kalangan atas (pejabat) untuk memanfaatkan dana pemerintah yang tersedia tanpa memperhatikan kebutuhan, kesiapan dan implementasinya di sektor operasional. Akibatnya banyak infrastruktur IT yang telah dibangun tidak sesuai dengan harapan karena user di level operasional belum siap menggunakan dan sistem yang sudah dibangun kurang fleksible untuk dikembangkan. Ketika sistem itu tidak bisa lagi dikembangkan maka jalan satu-satunya adalah mengganti sistem, menganggarkan dana lagi, tender proyek lagi dan begitu seterusnya hanya membuang-buang sumber daya.
Agar adopsi IT berjalan baik, maka organisasi harus menyiapkan strategi yang matang. » Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
Beberapa waktu yang lalu saya dapat email dan telepon dari panitia FIKI (Forum Informatika Kesehatan Indonesia) 2011 dimana salah satu materi yang akan dibahas adalah mengenai Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) Generik yang kebetulan juga sedang ramai dibahas oleh rekan-rekan saya di forum MIK UMS.
Seperti diketahui bahwa saat ini kementerian kesehatan RI sedang mempersiapkan pengimplementasian SIKDA generik untuk Puskesmas. Pada tahap awal akan diujicobakan pada beberapa Puskesmas di beberapa daerah. Setalah masa uji coba rencananya SIKDA ini akan diimplementasikan secara nasional. SIKDA merupakan seperangkat sistem informasi manajemen fasilitas pelayanan kesehatan yang bersifat open source. Pada tahap awal dibangun untuk Puskesmas dan tahap selanjutnya akan dibangun juga SIKDA untuk kelas rumah sakit.
» Baca Selengkapnya..
By Dian Budi Santoso, on October 18th, 2011
3 faktor utama yang menjadi kunci kesusksesan penerapan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah:
Technical Determinants (faktor teknis), Systemic/Environmental Determinants (faktor lingkungan), dan Behavioral Determinants (faktor tingkah laku).
Apabila ketiga faktor tersebut sudah terpenuhi diharapkan dapat meningkatkan performa dari pelayanan kesehatan itu sendiri yang berimplikasi terhadap meningkatnya status kesehatan masyarakat. » Baca Selengkapnya..
|
Tentang saya Pria Kelahiran Purwokerto, 20 Nopember 1988. Terlibat dalam beberapa proyek terkait Dunia Pendidikan dan Informatika Kesehatan, menulis e-book, menjadi konsultan IT dan Manajemen Informasi Kesehatan, keluyuran ilmiah serta mengisi tutorial di berbagai forum dan kegiatan. Menyukai dunia edukasi terkait teknologi informasi dan rekam kesehatan. Selengkapnya..
Curriculum Vittae
Produk
Buku Tamu
|
Komentar Terbaru