Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

ICPC sebagai Standar Klasifikasi di Unit Pelayanan Kesehatan Primer

ICPC dipublikasikan tahun 1987 sebagai standar klasifikasi di unit pelayanan kesehatan primer. ICPC dirancang berdasarkan data dari praktik layanan kesehatan primer dan diklasifikasikan untuk mendefinisikan episode perawatan (Soler et al., 2008). Konsep episode perawatan ini berbeda dengan konsep episode sakit yang terdapat di populasi. Episode perawatan dimulai sejak masalah tertentu ditemui dan menjadi alasan seorang pasien berkunjung ke unit layanan kesehatan primer sampai masalah tersebut terselesaikan pada kunjungan yang terakhir (Lamberts & Hofmans-Okkes, 1996). Perawatan yang berkelanjutan berkaitan erat dengan kepuasan pasien di unit pelayanan kesehatan primer (Hjortdahl & Laerum, 1992).

Kelebihan ICPC untuk diterapkan di unit pelayanan kesehatan primer adalah ICPC disusun khusus untuk digunakan di unit pelayanan kesehatan primer sehingga dapat mengkode alasan kunjungan pasien secara spesifik (Van der Heyden et al., 2004). Reason for Encounters atau alasan kunjungan pasien merepresentasikan tujuan pasien datang ke unit pelayanan kesehatan primer. Alasan ini bisa berupa symptom dan keluhan seperti sakit kepala atau takut jika saat ini dirinya terkena kanker, datang dengan alasan telah menderita penyakit yang umum diketahui seperti flu dan diabetes, datang untuk mendapatkan pelayanan prefentif dan diagnostik seperti cek darah dan EKG, datang untuk mendapatkan pelayanan yang sama dengan kunjungan sebelumnya seperti meminta kembali resep obat yang sama, datang untuk mengambil hasil test, atau datang untuk mendapatkan pelayanan administratif seperti surat keterangan sehat (Family Medicine Research Center, 1998).

Alasan kunjungan pasien ke unit pelayanan kesehatan primer harus dapat difasilitasi oleh standar kodefikasi yang ada dengan sudut pandang pasien, dalam arti bahwa alasan pasien berkunjung dapat dikode apa adanya berdasarkan bahasa atau istilah mereka. Itulah kenapa ICPC kemudian disusun berdasarkan tiga prinsip dalam satu nomenklatur yaitu alasan kunjungan pasien, label diagnosis, dan intervensi layanan kesehatan primer (Henk & Wood, 2002).
» Baca Selengkapnya..

Sosialisasi SIM Posyandu berbasis elektronik di Purwodadi

Bertempat di Balai Desa Pulorejo, Purwodadi, tanggal 8 Desember 2013 saya dan mas Hendra Rokhman memberikan sosialisasi penggunaan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Posyandu berbasis elektronik untuk para bidan dan kader kesehatan di sana. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang bekerjasama dengan para bidan komunitas dari Kabupaten Blora yang sudah menerima sosialisasi sebelumnya.

Seperti biasa, di awal kegiatan peserta seperti belum “ngeh” untuk apa harus menggunakan SIM Posyandu berbasis elektronik, kemudian persepsi tentang komputer sebagai suatu hal yang sulit memang menjadi persoalan utama. Jalannya sosialisasi di awali dengan meng-install SIM Posyandu ke masing-masing laptop yang tersedia disana. Para peserta juga diajari cara installasi agar dapat menginstall di komputer lain atau membantu para kader lain yang belum sempat mendapat sosialisasi agar juga dapat mengimplementasikan SIM berbasis elektronik di posyandu masing-masing.

Tahap selanjutnya adalah mengenalkan para kader bagaimana cara penggunaan SIM Posyandu. Para kader terlihat antusias dan semakin memahami kemudahan dan keuntungan penggunaan SIM Posyandu berbasis elektronik.
» Baca Selengkapnya..

Total Quality Management

Tanggal 8 November 2013, di Hotel Mutiara Yogyakarta saya berkesempatan menyampaikan materi tentang Total Quality Management . Hadir dalam workshop ini Kabid. Pelayanan Medik RSUD Kab. Nunukan dr. IGAP Arishanta, MPH beserta staff. Sebuah kehormatan bagi saya tentunya, dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan jajaran manajemen rumah sakit yang datang jauh-jauh ke Yogyakarta untuk “update ilmu”, meminjam kosakatanya dr. Arishanta.

Jalannya workshop lebih ke arah diskusi, dr. Arishanta dan staff menceritakan bagaimana kondisi rumah sakit tempat mereka bekerja, termasuk kondisi daerahnya, suatu saat saya berharap bisa datang sendiri kesana. Dari diskusi yang kami lakukan dapat saya simpulkan bahwa RSUD Kab. Nunukan secara pengelolaan sudah bagus, fasilitas cukup lengkap, beban kerja SDM juga cukup, dalam artian tidak terlalu tinggi. RSUD Kab. Nunukan juga sudah mengimplementasikan sistem informasi manajemen rumah sakit berbasis elektronik, dan yang paling membanggakan adalah unit kerja rekam medisnya mendapat nilai paling tinggi dalam proses akreditasi.

Hal yang menjadi fokus manajemen sekarang adalah bagaimana dapat mempertahankan dokter spesialis yang ada disana, serta menarik minat dokter spesialis yang lain agar dapat onsite disana. Kurangnya tenaga dokter spesialis di deaerah memang menjadi problema di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa solusi dapat dilakukan, misalkan dengan menyekolahkan putra daerah untuk mengambil pendidikan spesialis dengan timbal balik harus kembali mengabdi di daerahnya. Alternatif solusi lain misalkan bekerjasama dengan fakultas kedokteran yang memiliki pendidikan spesialis untuk mengirimkan dokter residen ke rumah sakit di daerah.
» Baca Selengkapnya..

Hikayat Sistem Informasi Manajemen Absensi

Alkisah di Desa Babadan hiduplah seseorang yang dijuluki sebagai Phunsukh Wangdu dari Bantul, nama aslinya Rizka Himawan namun lebih dikenal dengan nama Kadon Brokoli. Sesuai julukannya pria ini adalah pria multitalenta, ahli dalam segala bidang (kecuali cinta), menghabiskan sedikit waktunya untuk riset, dan sisanya untuk hobinya yang lain macam bermain musik dan hunting foto gadis cantik. Sama dengan tokoh aslinya, sang Phunsukh Wangdu dari Bantul juga tidak memiliki ijazah dari kampusnya (UGM) meskipun telah menamatkan pendidikannya di kampus biru itu tepatnya dari Program Studi Komputer dan Sistem Informasi. Ia percaya bahwa kuliah bukan mencari ijazah, melainkan mencari ilmu. Saat ini dia mengabdikan dirinya untuk wong cilik, menjadi panembahan IT di kampungnya.

Suatu hari datanglah punggawa dari Fakultas Kedokteran UGM membawa sebuah device yang kita kenal sebagai mesin absensi berbasis sidik jari (finger print), yang katanya sudah rusak, dan bisa dijadikan bahan riset untuk Sang Phunsukh Wangdu. Tentu saja naluri risetnya menggelora, diopreknya device itu sampai jeroannya. Maklum, di rumahnya sang Phunsukh Wangdu memiliki klinik bedah husus alat-alat elektronik, disamping studio musik khasidah dan dangdutan yang biasa digunakan bersama warga di kampungnya.

Ternyata mesin absensi sidik jari ini dibekali dengan software berbasis desktop dan database yang berbasis teks. Tampilan aplikasinya cukup jadul (kalau kata anak muda) dan tentunya tidak bisa dikustomisasi karena sifatnya yang closed source. Pungsukh Wangdu berpikir bagaimana caranya supanya device ini dapat berkomunikasi langsung dengan database management system macam MySQL sehingga membuatnya akan lebih powerful dari saat ini.
» Baca Selengkapnya..

Sistem Informasi Pelayanan Pengujian

Sistem ini dikembangkan di Balai Pengujian Informasi Permukiman dan Bangunan dan Pengembangan Jasa Konstruksi (PIPBPJK) Dinas PU-ESDM Daerah Istimewa Yogyakarta. Balai PIPBPJK merupakan lembaga yang mengeluarkan sertifikat untuk kepentingan uji kualitas air dan bahan bangunan. Sesuai kesepakatan dengan pihak Balai PIPBPJK sistem ini diberi nama sistem pelayanan pengujian karena memang fokus pengembangannya ada pada kualitas pelayanan bagi pelanggan.

Sistem ini meng-cover seluruh aktifitas pelayanan mulai dari penyerahan bahan uji, pembayaran, hingga pengambilan sertifikat hasil uji. Sistem pelayanan pengujian merupakan sistem informasi berbasis web yang dikembangkan dengan DonJo PHP Framework dan database MySQL, sama dengan SIPP yang dikembangkan di Kabupaten Kebumen sebelumnya.
» Baca Selengkapnya..

FAQ Rekam Medis

Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008

Pasal 1 menyebutkan:

“Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien”(ayat 1).

Pasal 2 menyebutkan:

“Rekam medis harus dibuat secara tertulis, dan jelas atau secara ELEKTRONIK”(ayat 1)

“Penyelenggaraan rekam medis dengan menggunakan teknologi informasi elektronik diatur lebih lanjut dengan peratutan sendiri”(ayat 2).

Pasal 12 menyebutkan:

“BERKAS rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan”(ayat 1) dan “ISI rekam medis merupakan milik pasien” (ayat 2).
» Baca Selengkapnya..

Implementasi Sistem Informasi Manajemen Posyandu di Kabupaten Blora

Tanggal 24-26 Juni 2013 bertempat di Gedgung KORPRI Kab. Blora diadakan pelatihan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Posyandu untuk perwakilan bidan dan kader posyandu strata mandiri dari masing-asing kecamatan di Kab. Blora. Total ada 16 perwakilan posyandu terpilih yang mendapatkan hibah laptop dan printer dari Pemda.

Seperti biasa saya dan tim berperan sebagai konsultan IT yang melatih dan mendampingi para kader dan bidan dalam penggunaan SIM Posyandu. Para peserta pelatihan terlihat cukup antusias, apalagi mendapatkan uang saku, laptop dan printer gratis, heheh.. saya juga mau kalau itu.

Diharapkan masing-masing posyandu yang terpilih dapat dijadikan posyandu rintisan yang berhasil mengimplementasikan teknologi informasi dalam menunjang kegiatan pelayanan. Rencananya implementasi SIM Posyandu di Kab. Blora akan dilakukan secara bertahap setiap tahunnya, selain itu SIM Posyandu juga ke depannya akan diintegrasikan dengan SIM Puskesmas dan SIM PKK yang selama ini masih berdiri sendiri padahal ada keterkaitan data dan informasi diantara ketiganya.
» Baca Selengkapnya..