Statistik

free counters

Translate

Chinese (Simplified)DutchEnglishItalianJapaneseKoreanMalayPortugueseSpanish

Pentingnya Penguasaan Teknologi Informasi bagi Perekam Medis

Pada tanggal 27 Agustus 2015 yang lalu saya berkesempatan menyampaikan materi terkait pentingnya seorang perekam medis menguasai atau memiliki wawasan tentang teknologi informasi. Materi ini saya sampaikan pada kuliah umum untuk Program Studi D3 Rekam medis dan Informasi Kesehatan Poltekes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon.

Kenapa perekam medis harus menguasai teknologi informasi? Ada beberapa hal yang perlu kita resapi bersama:

Semua fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang bekerjasama dengan BPJS wajib menggunakan p-Care, yaitu sebuah software yang digunakan untuk mencatat data pelayanan pasien BPJS di FKTP. Tentu saja untuk mengoperasikannya dibutuhkan wawasan di bidang teknologi informasi. Termasuk isu terkini yaitu bagaimana dapat mengintegrasikan p-Care dengan sistem informasi yang sudah ada sebelumnya di FKTP seperti sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS). Karena dengan adanya p-Care telah memunculkan masalah baru yaitu petugas harus melakukan double entry untuk data pasien BPJS.

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL)? Tentu tidak jauh berbeda. Semua rumah sakit yang berkejasama dengan BPJS juga wajib menggunakan INASIS (INA CBGs-SEP Integrated System) yaitu sebuah software yang memfasilitasi penerbitan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) BPJS serta proses kliam biaya pasien BPJS.
» Baca Selengkapnya..

Sistem Informasi Keuangan Desa

Pada tanggal 6 September 2015 yang lalu saya dan tim berkesempatan memberikan pelatihan dengan tajuk “Penyusunan Rencana dan Pelaporan Keuangan Desa Berbasis Teknologi Informasi”. Pelatihan ini terselenggara atas kerjasama Asosiasi Perangkat Desa Indonesia (APDESI) dan Universitas Gadjah Mada. Peserta pelatihan merupakan perwakilan perangkat desa di wilayah Kabupaten Semarang. Pada pelatihan ini kami memperkenalkan sebuah software sistem informasi keuangan desa yang telah kami kembangkan dan kami beri nama SIMPELDES.

Sistem informasi keuangan desa dibuat untuk memudahkan perangkat desa dalam menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja desa (RAPBDes) serta melaporkan realisasi dari RAPBDes yang telah disusun. Sistem ini memilki 3 (tiga) modul utama yaitu modul rencana, transaksi, dan laporan.
» Baca Selengkapnya..

Kajian ilmiah patah hati (Fractura Hepatica)

Fractura hepatica adalah kondisi dimana terjadi keretakan di dinding hati disebabkan oleh goncangan yang sifatnya psikis. Umumnya kondisi ini akan memicu tingginya hormon kortisol dan adrenalin yang dapat membuat jantung berdegup lebih kencang sehingga tubuh menjadi tegang. Kehadiran hormon ini bisa berlangsung sekejap maupun dalam jangka waktu yang lama. Pada kasus dengan tingkat severitas yang tinggi, hal ini dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah koroner karena hormon ini juga memicu pelepasan lemak ke dalam aliran darah. Akibatnya? Tentu dapat berujung kematian (hati) jika tak segera ditangani. Hati yang mati akan sulit untuk pulih kembali.

Pusdatin (Pusat Data dan Informasi) Kementerian Perjombloan melaporkan bahwa wabah fraktura hepatica telah menyebar ke seantero nusantara. Pemerintah kemudian meluncurkan program JKN (Jomblo Kita Nikahkan) dan mengusulkan agar fractura hepatica menjadi salah satu penyakit yang biaya perawatannya ditanggung oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jomblo Sejahtera).
» Baca Selengkapnya..

Pertemuan Pengelola Data Kesehatan Kabupaten Blora

Tanggal 4-7 November 2014 saya berkesempatan menyampaikan materi pada acara pertemuan pengelola data kesehatan di Kabupaten Blora. Di hari pertama, peserta pertemuan ini adalah perwakilan dari masing-masing bidang dan seksi di dinas kesehatan kabupaten blora. Dalam sesi ini saya dan tim mempresentasikan web site dinas kesehatan kabupaten blora yang baru (dinkes.blorakab.go.id) sekaligus memberikan pelatihan dan pendampingan agar web site tersebut dapat terus diupdate secara periodic terutama dari sisi konten. Dalam sesi ini juga dibahas rencana pengembangan sistem pelaporan berbasis elektronik sehingga pelaporan di dinas kesehatan kabupaten blora dapat diintegrasikan melalui satu pintu dan terekap secara otomatis.
Hari berikutnya peserta pertemuan adalah perwakilan dari masing-masing puskesmas di wilayah kabupaten blora. Dalam pertemuan ini dibahas rencana implementasi sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) berbasis komputerisasi untuk menunjang kegiatan pelayanan, administrasi, pencatatan dan pelaporan.
» Baca Selengkapnya..

ICPC sebagai Standar Klasifikasi di Unit Pelayanan Kesehatan Primer

ICPC dipublikasikan tahun 1987 sebagai standar klasifikasi di unit pelayanan kesehatan primer. ICPC dirancang berdasarkan data dari praktik layanan kesehatan primer dan diklasifikasikan untuk mendefinisikan episode perawatan (Soler et al., 2008). Konsep episode perawatan ini berbeda dengan konsep episode sakit yang terdapat di populasi. Episode perawatan dimulai sejak masalah tertentu ditemui dan menjadi alasan seorang pasien berkunjung ke unit layanan kesehatan primer sampai masalah tersebut terselesaikan pada kunjungan yang terakhir (Lamberts & Hofmans-Okkes, 1996). Perawatan yang berkelanjutan berkaitan erat dengan kepuasan pasien di unit pelayanan kesehatan primer (Hjortdahl & Laerum, 1992).

Kelebihan ICPC untuk diterapkan di unit pelayanan kesehatan primer adalah ICPC disusun khusus untuk digunakan di unit pelayanan kesehatan primer sehingga dapat mengkode alasan kunjungan pasien secara spesifik (Van der Heyden et al., 2004). Reason for Encounters atau alasan kunjungan pasien merepresentasikan tujuan pasien datang ke unit pelayanan kesehatan primer. Alasan ini bisa berupa symptom dan keluhan seperti sakit kepala atau takut jika saat ini dirinya terkena kanker, datang dengan alasan telah menderita penyakit yang umum diketahui seperti flu dan diabetes, datang untuk mendapatkan pelayanan prefentif dan diagnostik seperti cek darah dan EKG, datang untuk mendapatkan pelayanan yang sama dengan kunjungan sebelumnya seperti meminta kembali resep obat yang sama, datang untuk mengambil hasil test, atau datang untuk mendapatkan pelayanan administratif seperti surat keterangan sehat (Family Medicine Research Center, 1998).

Alasan kunjungan pasien ke unit pelayanan kesehatan primer harus dapat difasilitasi oleh standar kodefikasi yang ada dengan sudut pandang pasien, dalam arti bahwa alasan pasien berkunjung dapat dikode apa adanya berdasarkan bahasa atau istilah mereka. Itulah kenapa ICPC kemudian disusun berdasarkan tiga prinsip dalam satu nomenklatur yaitu alasan kunjungan pasien, label diagnosis, dan intervensi layanan kesehatan primer (Henk & Wood, 2002).
» Baca Selengkapnya..

Sosialisasi SIM Posyandu berbasis elektronik di Purwodadi

Bertempat di Balai Desa Pulorejo, Purwodadi, tanggal 8 Desember 2013 saya dan mas Hendra Rokhman memberikan sosialisasi penggunaan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Posyandu berbasis elektronik untuk para bidan dan kader kesehatan di sana. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang bekerjasama dengan para bidan komunitas dari Kabupaten Blora yang sudah menerima sosialisasi sebelumnya.

Seperti biasa, di awal kegiatan peserta seperti belum “ngeh” untuk apa harus menggunakan SIM Posyandu berbasis elektronik, kemudian persepsi tentang komputer sebagai suatu hal yang sulit memang menjadi persoalan utama. Jalannya sosialisasi di awali dengan meng-install SIM Posyandu ke masing-masing laptop yang tersedia disana. Para peserta juga diajari cara installasi agar dapat menginstall di komputer lain atau membantu para kader lain yang belum sempat mendapat sosialisasi agar juga dapat mengimplementasikan SIM berbasis elektronik di posyandu masing-masing.

Tahap selanjutnya adalah mengenalkan para kader bagaimana cara penggunaan SIM Posyandu. Para kader terlihat antusias dan semakin memahami kemudahan dan keuntungan penggunaan SIM Posyandu berbasis elektronik.
» Baca Selengkapnya..

Total Quality Management

Tanggal 8 November 2013, di Hotel Mutiara Yogyakarta saya berkesempatan menyampaikan materi tentang Total Quality Management . Hadir dalam workshop ini Kabid. Pelayanan Medik RSUD Kab. Nunukan dr. IGAP Arishanta, MPH beserta staff. Sebuah kehormatan bagi saya tentunya, dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan jajaran manajemen rumah sakit yang datang jauh-jauh ke Yogyakarta untuk “update ilmu”, meminjam kosakatanya dr. Arishanta.

Jalannya workshop lebih ke arah diskusi, dr. Arishanta dan staff menceritakan bagaimana kondisi rumah sakit tempat mereka bekerja, termasuk kondisi daerahnya, suatu saat saya berharap bisa datang sendiri kesana. Dari diskusi yang kami lakukan dapat saya simpulkan bahwa RSUD Kab. Nunukan secara pengelolaan sudah bagus, fasilitas cukup lengkap, beban kerja SDM juga cukup, dalam artian tidak terlalu tinggi. RSUD Kab. Nunukan juga sudah mengimplementasikan sistem informasi manajemen rumah sakit berbasis elektronik, dan yang paling membanggakan adalah unit kerja rekam medisnya mendapat nilai paling tinggi dalam proses akreditasi.

Hal yang menjadi fokus manajemen sekarang adalah bagaimana dapat mempertahankan dokter spesialis yang ada disana, serta menarik minat dokter spesialis yang lain agar dapat onsite disana. Kurangnya tenaga dokter spesialis di deaerah memang menjadi problema di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa solusi dapat dilakukan, misalkan dengan menyekolahkan putra daerah untuk mengambil pendidikan spesialis dengan timbal balik harus kembali mengabdi di daerahnya. Alternatif solusi lain misalkan bekerjasama dengan fakultas kedokteran yang memiliki pendidikan spesialis untuk mengirimkan dokter residen ke rumah sakit di daerah.
» Baca Selengkapnya..